Selasa 24 Oct 2023 11:14 WIB

Tantangan Global Makin Berat, Jokowi Minta Waspadai Kondisi Moneter dan Fiskal

Jokowi menegaskan pemerintah sudah memiliki rencana dan antisipasi akan hal ini.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Fuji Pratiwi
Presiden Joko Widodo
Foto: Setpres
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta semua pihak untuk mewaspadai dan berhati-hati terhadap kondisi moneter dan fiskal di Tanah Air. Sebab, tantangan global yang dihadapi saat ini semakin bertambah dan juga semakin tak jelas.

"Inilah yang harus kita waspadai hati-hati semuanya baik sisi moneter maupun sisi fiskal," kata Jokowi dalam sambutannya di pembukaan Investor Daily Summit di Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Baca Juga

Jokowi pun mencontohkan berbagai tantangan yang harus dihadapi dunia saat ini, seperti perubahan iklim dan juga terjadinya El Nino yang menyebabkan kekeringan dan berimbas pada produksi pangan. Akibatnya produksi beras pun menurun hampir di semua negara.

Bahkan, hingga saat ini sudah ada 22 negara yang menghentikan ekspor beras untuk mengamankan kebutuhan dalam negerinya. Selain itu, masih terjadinya pelemahan ekonomi global dan juga kebijakan kenaikan suku bunga yang tinggi dan dalam waktu lama di Amerika Serikat dinilai semakin merumitkan kondisi negara-negara berkembang.

"Kebijakan kenaikan suku bunga yang tinggi dan dalam waktu yang lama oleh Amerika Serikat juga makin merumitkan utamanya negara-negara yang berkembang, capital outflow lari balik ke Amerika Serikat, makin merumitkan kita semua," ujar Jokowi.

Kondisi tersebut masih diperparah dengan adanya perang baik di Ukraina-Rusia dan juga Palestina-Israel. Perang yang terjadi tersebut bisa semakin mengkhawatirkan semua negara karena dapat berimbas ke berbagai negara lainnya seperti Lebanon, Suriah, dan juga Iran. Sehingga kondisi ekonomi global pun juga akan semakin sulit karena harga minyak juga dipastikan mengalami kenaikan.

"Saya cek kemarin harga brent masih 8-9 dolar AS per barrel, tetapi bisa kalau meluas yang seperti yang saya sampaikan, kita tak mengerti. Bisa mencapai 150 dolar AS," ungkap dia.

Meski demikian, Jokowi menegaskan bahwa pemerintah sudah memiliki rencana dan peta jalan untuk mengantisipasi berbagai dampak tersebut. Salah satunya yakni hilirisasi untuk menghentikan ekspor mentah nikel, tembaga, bauksit, timah, dll.

"Rencana sudah ada semuanya, hilirisasi misalnya, peta jalan untuk minerba seperti apa setelah di stop nikel kemudian stop tembaga, kemudian stop bauksit, stop timah, dilanjutkan lagi nanti untuk hilirisasi di bidang perkebunan, pertanian, kelautan, semuanya kita jalan itu sudah jelas," jelas dia.

Ia pun menegaskan perlunya keberlanjutan untuk mengawal implementasi kebijakan makro yang sudah disiapkan. Implementasi kebijakan pun harus dilakukan secara detil dan perlu pengawasan di lapangan.

"Artinya kerja mikro itu sangat penting sekali. Bottle necking juga agar diselesaikan. Memang kerja sekarang tidak bisa kalau hanya mengandalkan makro saja tidak bisa dan harus memiliki tim. Kita harus punya tim, masing-masing Kementerian/Lembaga punya tim untuk mengawal di lapangan, ini biasanya yang senang terjun ke lapangan anak muda," kata Jokowi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement