Sabtu 21 Oct 2023 19:50 WIB

Inflasi Rendah, Penyebabnya Karena Perlambatan Konsumsi?

Inflasi IHK September 2023 tercatat 2,28 persen secara tahunan.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan saat ini inflasi terkendali dalam kisaran sasaran. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai rendahnya inflasi tersebut bisa terjadi karena dua penyebab yakni demand atau supply.

"Nah yang dikhawatirkan adalah inflasi yang rendah ini jika disebabkan atau sejalan dengan kekhawatiran dari sisi konsumsi lambat. Jadi dari demandn-ya lemah," kata Faisal kepada Republika, Sabtu (21/10/2023).

Faisal menduga yang saat ini terjadi adalah adanya perlambatan demand. Meskipun inflasi tidak mengalami penurunan, Faisal menilai tetap ada kemungkinan yang terjadi perlambatan pertumbuhan karena konsumsu hanya didorong oleh kalangan menengah atas.

Jadi, kata Faisal, meskipun konsumsi rumah tangga dalam masih sekitar lima persen namun hanya disetir oleh konsumsi kalangan atas. "Jadi yang kita rasakan selama ini adalah yang mayoritas kalangan menangah ke bawah dan ini kemudian berpotensi apalagi dengan kondisi eksternal global seperti sekarang ini bisa artinya efeknya meskipun lambat perlahan tapi sebetulnya yang terjadi adalah perlambatan dari sisi konsumsi," jelas Faisal.

 

Terlebih, Faisal menuturkan kenaikkan suku bunga sudah pasti biasanya mendorong kenaikkan suku bunga perbankan komersial. Faidal menilai hal tersebut akan menahan penyaluran kredit ke sektor riil meskipun kemungkinan dari sisi efeknya tidak terlalu besar karena kenaikkan suku bunga masih 25 basis poin (bps).

Sebelumnya, BI mengungkapkan saat ini inflasi terkendali dalam kisaran sasaran. Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan mempererat sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah.

"Bauran kebijakan dan sinergi dilakukan  untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 3,0 plus minus satu persen pada 2023 dan 2,5 plus minus satu persen pada 2024," kata Perry dalam konferensi pers RDG Bulanan BI Oktober 2023, Kamis (19/10/2023).

Dia menjelaskan, inflasi IHK September 2023 tercatat 2,28 persen secara tahunan. Menurutnya, angka tersebut lebih rendah dari inflasi IHK bulan sebelumnya sebesar 3,27 persen secara tahunan.

Perry menegaskan, penurunan inflasi tersebut didukung oleh inflasi inti yang menurun menjadi dua persen secara tahunan. Begitu juga didukung inflasi kelompok administered prices yang juga lebih rendah menjadi 1,99 persen secara tahunan.

Sementara itu, Perry menyebut kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 3,62 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,42 persen secara tahunan sejalan dengan kenaikan harga beras dan daging sapi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement