Jumat 20 Oct 2023 21:24 WIB

Pemerintah Belum Izinkan Pertashop Jual Pertalite, Ini Alasan ESDM

Hal ini karena harga minyak dunia yang masih tinggi.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Pertashop, Yogyakarta, Selasa (10/5/2022).
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Pertashop, Yogyakarta, Selasa (10/5/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memastikan pemerintah belum akan memberikan kebijakan Pertashop untuk bisa berjualan Pertalite. Hal ini dikarenakan harga minyak dunia yang masih tinggi sehingga akan menjadi beban subsidi di APBN.

"Kalau jual Pertalite, ini nanti bisa menambah subsidi lagi. Harus dievaluasi lebih dalam lagi, kalau tidak nanti APBN-nya jebol," kata Arifin di Kementerian ESDM, Jumat (20/10/2023).

Baca Juga

Apalagi, saat ini posisi penjualan Pertalite masih kerap di atas kuota yang ditetapkan. Bahkan kuota BBM yang dikompensasi pemerintah ini dari tahun ke tahun semakin naik.

"Harga minyak dunia saat ini aja kan sudah 92 dolar AS per barel, jadi memang sekarang pengawasan yang harus kita tingkatin terus. Jadi kita juga imbau masyarakat untuk beralih juga ke Pertamax, jangan malah pindah ke Pertalite," kata Arifin.

 

Kenaikan harga minyak yang memicu PT Pertamina (Persero) menaikan harga jual Pertamax membuat disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite tinggi. Hal ini membuat pengusaha Pertashop di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menjerit. Banyak dari mereka terpaksa gulung tikar.

Ketua Paguyuban Pengusaha Pertashop Jateng dan DIY, Sadewo berharap agar pemerintah memenuhi usulan mereka yang disampaikan melalui Komisi VII DPR RI pada Juli lalu. Mereka berharap dapat menjual Pertalite hingga elpiji tiga kg agar mampu bersaing dengan pengecer lainnya. Apalagi saat ini dari sekitar 420 pengusaha Pertashop yang bergabung paguyuban, hanya sekitar 200 lebih yang masih bisa bertahan.

"Karena kebanyakan pengusaha Pertashop ini kan ambil KUR (kredit usaha rakyat), sekarang mereka tidak untung, tetap buka yang penting bisa bayar cicilan," ungkap Sadewo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement