Selasa 17 Oct 2023 20:58 WIB

Neraca Perdagangan Surplus, Kemenkeu: Kinerja Sektor Eksternal Terjaga Baik

Surplus neraca perdagangan sebesar 27,75 miliar dolar AS secara kumulatif.

Rep: Novita Intan/ Red: Ahmad Fikri Noor
Petugas keamanan berbicara dengan sopir saat memantau aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7/2023).
Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Petugas keamanan berbicara dengan sopir saat memantau aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 mencatatkan surplus sebesar 3,42 miliar dolar AS. Adapun secara kumulatif pada Januari hingga September 2023, surplus neraca perdagangan sebesar 27,75 miliar dolar AS.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus di tengah tren moderasi harga komoditas dan perlambatan kinerja pertumbuhan ekonomi global.  Indonesia telah mengalami surplus perdagangan selama 41 bulan berturut-turut.

Baca Juga

"Hal ini menunjukkan kinerja sektor eksternal Indonesia yang masih kuat dan akan terus kita jaga ke depan,” ujarnya, Selasa (17/10/2023).

Menurut Febrio, meskipun masih mencatatkan surplus, aktivitas perdagangan internasional Indonesia menurun sejalan dengan tren moderasi harga komoditas global serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama. Di antaranya harga beberapa komoditas ekspor utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan nikel mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun lalu.

 

Dari sisi lain, Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global pada 2023 akan termoderasi sebesar 21,2 persen dibanding 2022 sebagai dampak dari meningkatnya tensi geopolitik dan pelemahan China, sesuai laporannya dalam Commodity Market Outlook 2023.

Adapun, nilai ekspor pada September 2023 sebesar 20,76 miliar dolar AS mengalami kontraksi 16,17 persen dari basis angka yang tinggi tahun lalu, utamanya sektor industri dan pertambangan. Secara kumulatif, nilai ekspor periode Januari hingga September 2023 sebesar 192,27 miliar dolar AS.

Sementara, nilai impor Indonesia mencatatkan sebesar 17,34 miliar dolar AS atau turun 12,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan nilai impor terjadi pada bahan baku/penolong dan barang modal, sementara impor barang konsumsi tumbuh 4,74 persen. Secara kumulatif impor periode Januari hingga September 2023 sebesar 164,52 miliar dolar AS.

Febrio menyebut penurunan nilai ekspor dan impor tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi pada banyak negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, India, Amerika Serikat, Vietnam, dan Korea Selatan, sejalan dengan tren perlambatan ekonomi global.

Menurut Febrio, meskipun dari nilai ekspor terjadi penurunan, namun dari volume, ekspor Indonesia masih menunjukkan peningkatan sebesar 7,29 persen selama periode Januari hingga September 2023. Tercatat volume ekspor unggulan Indonesia, seperti bahan bakar mineral termasuk batu bara, minyak hewani atau nabati, besi baja, dan nikel masih meningkat cukup signifikan.

Febrio menyebut dalam menghadapi tantangan perlambatan global yang semakin kompleks, pemerintah tetap optimistis dan berkomitmen untuk mengatasi dampak dari perlambatan global. Adapun salah satu strategi yang diterapkan yakni memantau secara cermat dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional.

“Pemerintah juga telah menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama,” ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement