Rabu 04 Oct 2023 10:41 WIB

Komunitas Otomotif: Harga BBM Nonsubsidi Naik tak Pengaruhi Konsumsi

Pertamax Green (RON 95) yang dijual Rp 16.000/liter.

Warga mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di Jakarta, Senin (2/10/2023). PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 1 Oktober 2023 untuk jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Green 95 dengan kenaikan antara Rp700 hingga Rp1.000 per liter.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di Jakarta, Senin (2/10/2023). PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 1 Oktober 2023 untuk jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Green 95 dengan kenaikan antara Rp700 hingga Rp1.000 per liter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan serentak harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di semua operator BBM awal Oktober 2023 dinilai tidak berpengaruh terhadap pilihan konsumen.

Menurut Humas Club Ayla Indonesia (CAI) Adjie Sambogo, hampir sebagian besar anggota komunitasnya tetap menggunakan Pertamax series, terutama Pertamax RON 92 salah satu jenis BBM produk Pertamina.

Baca Juga

"Saya tidak akan ganti produk lain, apalagi operator lain. Karena mobil saya sudah hampir 10 tahun pakai Pertamax terus dan terbukti sekarang masih enak,” ujar Adjie melalui telepon di Jakarta, Rabu (4/10/2023).

Menurut dia, BBM Pertamina memang sangat kompetitif dengan operator lain, termasuk yang berasal dari luar sebab kualitas bisa bersaing serta harga juga lebih terjangkau.

“Untuk Ayla yang kapasitas mesinnya lebih kecil saja, terasa banget kalau Pertamax lebih ekonomis. Saya kan isi selalu penuh, sekitar 35 liter. Apalagi kalau mobil kapasitas besar, pasti lebih terasa,” kata dia lagi.

Selain itu, menurut Adjie karena SPBU Pertamina mudah didapat dan sangat menyebar di berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa terutama di jalan-jalan tol.

"Saat mudik atau touring beberapa waktu lalu yang banyak saya temukan adalah SPBU Pertamina. Jarang sekali SPBU lain, terutama di jalan tol. Daripada saya mencampur dengan produk operator lain, lebih nyaman pakai produk Pertamina," katanya.

Terkait kenaikan harga BBM non subsidi, Adjie sebagai konsumen mengaku memahami, apalagi memang sesuai regulasi dan sudah berlangsung lama.

"BBM non subsidi kan memang fluktuatif. Konsumen sudah terbiasa. Saya juga ngikut saja, apalagi semua operator juga ikut naik," katanya.

Awal Oktober, seluruh operator SPBU memang serentak menyesuaikan harga BBM non subsidi. Kenaikan dilakukan untuk menyesuaikan harga pasar, minyak mentah dunia, dan faktor kurs.

Penyesuaian tersebut sesuai regulasi, yakni Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Harga setelah kenaikan untuk Pertamax RON 92 di Pulau Jawa Pertamina menjual Rp 14.000/liter. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan BBM sejenis di SPBU swasta yang dijual hingga Rp 15.380/liter.

Begitu pula Pertamax Green (RON 95) yang dijual Rp 16.000/liter, masih lebih rendah dibandingkan BBM sejenis di SPBU swasta seharga Rp 16.350/liter.

Untuk Pertamax Turbo (RON 98), Pertamina menjual Rp 16.600/liter lebih rendah dibandingkan SPBU swasta yakni Rp 16.730/liter.

Sementara untuk BBM diesel, Pertamina menjual Dexlite (Cetane 51) Rp 17.200/liter, lebih rendah dibandingkan BBM sejenis yang dijual hingga Rp 17.920/liter. Sedangkan untuk Pertalite, sebagai produk subsidi, harga tetap dibanderol Rp 10.000/liter lebih murah dibandingkan BBM sejenis di operator lain yang dijual Rp 12.500/liter.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement