Selasa 05 Sep 2023 16:34 WIB

Harga Beras Terus Melambung, Pedagang Pasar Induk "Angkat Tangan"

Karena pasokan beras dari daerah berkurang, pedagang tak bisa berbuat banyak.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Fuji Pratiwi
Pembeli beras mengecek kualitas beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (2/2/2023).
Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Pembeli beras mengecek kualitas beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (2/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenaikan harga beras di tengah cuaca ekstrem El Nino masih terus berlanjut. Selain permintaan yang mengalami kenaikan, pasokan beras dari daerah sentra produksi terus menurun. Pedagang pasar induk menilai tak mampu membendung kenaikan sehingga hanya pemerintah yang dapat diharapkan untuk menstabilkan harga.

Ketua Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Zulkfili Rasyid menyampaikan, pemerintah juga harus menyiapkan antisipasi masa paceklik beras yang biasanya dimulai pada Desember hingga Februari. Pada bulan-bulan tersebut, stok beras akan menipis hingga musim panen tiba. 

Baca Juga

"Yang bisa menekan harga adalah pemerintah, kalau pasar induk selama ini yang kita harapkan hanya pasokan dari daerah. Sekarang, pasokan berkurang, kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami tidak mampu," kata Zulkifli kepada Republika, Selasa (5/9/2023).

Ia mengungkapkan, rata-rata harga beras medium di Pasar Induk Beras Cipinang sudah tembus antara Rp 12.300 per kg hingga Rp 12.500 per kg. Dengan kata lain, harga yang diterima konsumen di pasar-pasar wilayah akan jauh lebih tinggi. Sementara pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras di Zona I maksimal Rp 10.900 per kg. 

 

Zulkifli pun menyebut Bulog saat ini justru memprioritaskan operasi pasar beras kemasan satu kilogram, lima kilogram, hingga 10 kilogram melalui jaringan toko retail. Pola tersebut memang ditujukan agar beras Bulog dapat langsung sampai ke tangan konsumen. Namun, Zulkifli mengatakan, kenaikan harga beras akibat menipisnya pasokan di pasar induk juga tak terhindarkan sehingga membutuhkan tambahan pasokan beras dalam bentuk curah (kemasan karung) dari Perum Bulog. 

"Harapannya operasi pasar beras curah, karena dalam pengamatan saya untuk bisa menurunkan harga, ya dengan beras curah seperti biasa Bulog melakukan operasi pasar," kata Zulkifli.

Mengutip statistik pasokan beras di PIBC, jumlah stok yang tersedia pada Selasa (5/9/2023) hanya 25,8 ribu ton jauh di bawah batas aman sebesar 30 ribu-35 ribu ton per hari. Jumlah itu juga jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata stok September 2022 lalu yang mencapai 39 ribu ton.

Sementara itu, rata-rata harga beras di pasar induk sudah tembus hingga Rp 13.057 per kg, jauh di atas rata-rata harga dua tahun sebelumnya di bulan sama yang berkisar Rp 10 ribu per kg. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement