Jumat 25 Aug 2023 15:46 WIB

Pertamina Menilai UMKM Perlu Terlibat dalam Transisi Energi di Indonesia

Indonesia memerlukan peran masyarakat dalam penyediaan bahan baku energi.

Pertamina menilai pentingnya keterlibatan UMKM dalam transisi energi di Indonesia yang disampaikan langsung dalam presentasi di forum B20 Summit di New Delhi, India.
Foto: Dok. Pertamina
Pertamina menilai pentingnya keterlibatan UMKM dalam transisi energi di Indonesia yang disampaikan langsung dalam presentasi di forum B20 Summit di New Delhi, India.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Transisi energi di Indonesia harus melibatkan UMKM yang memiliki porsi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu, perlu ada akses terhadap pendanaan dan teknologi agar UMKM dapat maksimal menjalankan perannya sebagai penyedia kebutuhan masyarakat dan lapangan pekerjaan agar masyarakat pedesaan bisa meningkatkan pendapatannya. 

Dalam presentasinya di forum BNEF, di New Delhi, Kamis (24/8/2023), Senior Vice President Research & Technology Innovation Pertamina Oki Muraza mengatakan, pentingnya keterlibatan UMKM dalam transisi energi di Indonesia karena kita memerlukan peran masyarakat dalam penyediaan bahan baku yang dibutuhkan untuk pengembangan energy low carbon. Dengan demikian, dalam proses itu ada Job Creation yang bisa dinikmati oleh masyarakat dan pada saat yang sama korporasi juga mendapatkan manfaat dari karbon kreditnya.

Baca Juga

“Tantangannya adalah akses terhadap kapital atau pendanaan dan akses terhadap teknologi kepada UMKM agar mereka dapat maksimal memainkan perannya dalam transisi energi dengan memberikan keuntungan kepada masyarakat dan korporasi,” kata Oki, melalui keterangan tertulis, Jumat (25/8/2023).

Karena itu, kata Oki, sebagai negara berkembang yang memiliki banyak sumber daya alam yang berlimpah di dalam negeri, Indonesia mendorong agar negara maju dapat memberikan arus pendanaan ke negara berkembang agar mereka bisa mengembangkan teknologi dan implementasinya dengan bantuan dari negara-negara maju yang memiliki dana.

 

“Saat ini dunia memiliki gap dalam perekonomian antara negara sangat maju dengan negara berkembang. Negara  sangat maju GDP per kapitanya sudah di atas 50.000 dolar AS, tetapi ada juga negara-negara berkembang seperti Indonesia yang GDP per kapitanya masih di bawah 5.000 dolar AS per kapita. Jadi, kita mengharapkan capital flow ini sebagai bentuk dari amanat CBDR atau common but differentiated responsibilities,” ujar Oki. 

Oki menjelaskan, dengan melibatkan UMKM dalam transisi energi ini, Indonesia ingin menggabungkan bantuan dari internasional di mana di situ ada lapangan pekerjaan untuk masyarakat dan juga keuntungan perusahaan dalam upaya mempercepat transisi energi.

“Harapannya, transisi energi di Indonesia itu dapat menjadi role model bagaimana keterlibatan masyarakat dan juga membuka lapangan pekerjaan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di pelosok dan bagaimana juga transisi energi itu bisa berjalan dengan nature-based solutions,” kata Oki. 

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja besar sehingga harus menjadi bagian penting dalam percepatan transisi energi. 

"Pertamina telah menjalankan program Desa Energi berdikari di 52 wilayah untuk memberikan akses energi terbarukan kepada UMKM dan masyarakat sehingga bisa mandiri energi," ujar Fadjar.

Pertamina sebagai pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan environmental, social & governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement