Rabu 26 Jul 2023 07:34 WIB

Emas Berakhir Lebih Tinggi Ketika Pedagang Menunggu Keputusan Fed

Emas berjangka terpangkas 4,40 dolar AS atau 0,20 persen.

Emas berjangka
Foto: forbes
Emas berjangka

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Harga emas berjangka berakhir sedikit lebih tinggi pada penyelesaian perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu (26/7/2023) pagi WIB, menghentikan penurunan selama tiga hari berturut-turut yang menarik harga ke level terendah dalam seminggu, menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange naik tipis 1,5 dolar AS menjadi ditutup pada 1.963,70 dolar AS per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di 1.967,10 dolar AS dan terendah sesi di 1.951,60 dolar AS.

Baca Juga

Emas berjangka terpangkas 4,40 dolar AS atau 0,20 persen menjadi 1.962,20 dolar AS pada Senin (24/7/2023), setelah tergelincir 4,30 dolar AS atau 0,22 persen menjadi 1.966,60 dolar AS pada Jumat (21/7/2023), dan jatuh 9,90 dolar AS atau 0,50 persen menjadi 1.970,90 dolar AS pada Kamis (20/7/2023).

Bank Sentral Eropa dan Bank Jepang juga akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter akhir pekan ini.

"Ini bisa menjadi minggu yang sangat fluktuatif untuk emas karena keputusan suku bunga Federal Reserve dan data ekonomi utama AS yang masuk," kata Lukman Otunuga, manajer, analisis pasar di FXTM.

Apa pun hasil dari keputusan Fed, "kemungkinan besar akan mengguncang emas dengan imbal hasil nol pada Rabu," katanya dalam komentar pasar.

Komentar dari Ketua Fed, Jerome Powell, pada Rabu dalam konferensi pers setelah keputusan suku bunga Fed mungkin menawarkan beberapa wawasan tentang rencana bank sentral untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Meskipun Fed menahan suku bunga pada Juni setelah memberikan 10 kenaikan suku bunga berturut-turut, bank sentral secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan ini.

Setiap tanda bahwa bank sentral merencanakan kenaikan lebih lanjut setelah Juli--mungkin langkah lain pada pertemuan September, atau nanti--dapat membebani harga emas, yang mendapat manfaat dari data inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga berkurang lebih cepat dari yang diharapkan.

"Risiko penurunan emas saat kita menyelesaikan Juli adalah apakah Fed membiarkan pintu agak terbuka untuk kenaikan suku bunga AS lebih lanjut," Jameel Ahmad, kepala analis di broker GTC yang berbasis di Dubai, mengatakan dalam komentar email kepada MarketWatch.

Data ekonomi utama AS minggu ini termasuk pembacaan produk domestik bruto kuartal kedua pada Kamis (27/7/2023) dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi pada Jumat (28/7/2023), ukuran inflasi pilihan Fed. Pada Selasa (25/7/2023), survei kepercayaan konsumen AS naik ke level tertinggi dua tahun di 117,0 pada bulan Juli.

Naiknya suku bunga menjadi pertanda buruk bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, mengingat hal itu mendorong peluang kerugian memegang emas. Prospek emas juga tetap tidak pasti, mengingat suku bunga AS kemungkinan akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement