Rabu 05 Jul 2023 20:45 WIB

Potensi EBT capai 3.700 GW, Tapi Hanya Dimanfaatkan Empat Persen

Potensi Photovoltaic Solar Indonesia mencapai 3.295 gigawatt.

Rep: Novita Intan/ Red: Lida Puspaningtyas
Antonius Makambombu, a worker of Sumba Sustainable Solutions performs maintenance work on a solar panel on the roof of a customer
Foto: AP Photo/Dita Alangkara
Antonius Makambombu, a worker of Sumba Sustainable Solutions performs maintenance work on a solar panel on the roof of a customer

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengungkapkan Indonesia memanfaatkan energi baru dan terbarukan hanya empat persen. Padahal potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia sebanyak 3.700 gigawatt.

Ketua I METI Bobby Gafur Umar mengatakan potensi tersebut berasal dari energi surya, bayu, hidro, bioenergi, panas bumi, dan gelombang laut.

Baca Juga

"Indonesia memiliki sumber daya atau potensi energi terbarukan yang cukup melimpah, dari angka potensi tersebut, yang dimanfaatkan baru empat persen saja,” ujarnya dalam riset METI dikutip Rabu (5/7/2023).

Menurutnya, potensi Photovoltaic Solar Indonesia ada 3.295 gigawatt, geothermal 24 GW, hidro power 95 gigawatt, angin 155 megawatt, bioenergi 57 gigawatt, dan gelombang laut atau arus laut 60 gigawatt,” ucapnya.

Menurutnya Indonesia perlu membuat terobosan atau langkah berani dan konsisten, untuk menggantikan penggunaan energi fosil seperti batu bara maupun BBM, dengan energi hijau. Pemerintah telah membuat peta jalan atau roadmap untuk melakukan percepatan penggunaan energi ramah lingkungan.

Sebagai contoh, pada 2030 Indonesia berkomitmen mempensiunkan dini sejumlah pembangkit fosil batu bara.

Kemudian akan memasifkan pembangunan pembangkit renewable energi yang memiliki skala besar berbasis hidro, panas bumi, dan sebagainya

“Serta menjalankan program Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS),” ucapnya.

Maka itu, Bobby menyebut pemerintah perlu mendorong penambahan kapasitas energi baru terbarukan, serta membangun koridor interkoneksi sistem kelistrikan Jawa-Sumatera dan Jawa-Kalimantan.

"Ini memerlukan biaya yang tak sedikit, membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, membutuhkan peralatan serta resources yang cukup banyak," ucapnya.

Sementara itu Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menambahkan pemerintah masih menjaga komitmen untuk menjalankan transisi energi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi baru dan energi terbarukan.

"Upaya menghentikan operasi PLTU lebih dini, mengembangkan utilitas tenaga surya, panas bumi, maupun tenaga dari energi terbarukan terus dilakukan untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2060 mendatang,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement