Jumat 24 Mar 2023 10:38 WIB

Rupiah Menguat Seiring Kebijakan Moneter AS yang tidak Terlalu Agresif

Rupiah pada Jumat dibuka naik 176 poin atau 1,15 persen ke posisi Rp 15.169 per dolar

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). Rupiah pada Jumat (24/3/2023) pagi dibuka naik 176 poin atau 1,15 persen ke posisi Rp 15.169 per dolar AS
Foto: Prayogi/Republika.
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). Rupiah pada Jumat (24/3/2023) pagi dibuka naik 176 poin atau 1,15 persen ke posisi Rp 15.169 per dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan menguat seiring Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed mengindikasikan kebijakan moneter yang tidak terlalu agresif. Rupiah pada Jumat (24/3/2023) pagi dibuka naik 176 poin atau 1,15 persen ke posisi Rp 15.169 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.345 per dolar AS.

"Rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS karena the Fed mengindikasikan kebijakan pengetatan yang tidak terlalu agresif pada pengumuman keputusan kebijakan moneternya pada Kamis dini hari kemarin," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi Antara di Jakarta.

Baca Juga

Ariston menuturkan, pasar sekarang berekspektasi mungkin suku bunga acuan AS tidak akan dinaikkan pada rapat berikutnya dan mungkin hanya naik satu kali lagi tahun ini. 

The Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin pada Rabu (22/3/2023), tetapi menghilangkan bahasa tentang "peningkatan yang sedang berlangsung" yang diperlukan untuk mendukung "beberapa kenaikan tambahan".

 

Kenaikan the Fed penting mengingat bahwa pasar keuangan telah bergolak oleh kepercayaan yang goyah terhadap bank-bank secara global menyusul penarikan dana besar-besar di Silicon Valley Bank di AS dua minggu lalu dan kematian mendadak Credit Suisse di Swiss.

Menurut Ariston, krisis perbankan di AS yang sedang berlangsung menjadi faktor dari kebijakan yang tidak agresif tersebut. Tiga bank di Amerika Serikat (AS) ditutup, yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank.

Namun, di sisi lain, krisis perbankan itu memicu kehati-hatian pelaku pasar untuk masuk ke aset berisiko. Pasar masih mencermati perkembangan krisis tersebut, apakah pemerintah yang bersangkutan bisa mengatasinya atau krisis malah menyebar ke berbagai negara.

"Kehati-hatian ini bisa mendorong pelemahan aset berisiko seperti rupiah," ujarnya.

Ia memperkirakan kurs rupiah berpeluang menguat ke arah Rp 1 5.300 per dolar AS dengan potensi resisten di sekitar Rp 15.380 per dolar AS.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement