Rabu 22 Mar 2023 16:10 WIB

Sentimen Perbankan Membaik, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Bakal Menguat

Kenaikan harga minyak didorong oleh membaiknya prospek perbankan.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Petugas memeriksa area kilang yang memproduksi Green Diesel (D100) dan Green Avtur di Kilang PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Jateng, Kamis (27/10/2022). Harga minyak dunia diproyeksi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (22/3/2023).
Foto: ANTARA/Idhad Zakaria
Petugas memeriksa area kilang yang memproduksi Green Diesel (D100) dan Green Avtur di Kilang PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Jateng, Kamis (27/10/2022). Harga minyak dunia diproyeksi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (22/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga minyak dunia diproyeksi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (22/3/2023). Setelah kemarin ditutup pada level 68,20 dolar AS per barel, minyak dunia malam ini diperkirakan akan diperdagangkan pada rentang 65,29 dolar AS per barel hingga 70,48 dolar AS per barel.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, naiknya harga minyak dunia didorong oleh prospek jangka pendek yang membaik untuk sektor perbankan. "Ini mengurangi kekhawatiran tentang aktivitas ekonomi di masa depan dan permintaan minyak mentah," kata Ibrahim, Selasa (21/3/2023).

Baca Juga

Sentimen di seluruh sektor perbankan AS telah membaik menyusul pengambilalihan Credit Suisse oleh saingannya dari Swiss, UBS, serta keputusan Federal Reserve, bersama dengan bank sentral utama lainnya, untuk meningkatkan likuiditas pasar. 

Komentar dari Menteri Keuangan Janet Yellen memberikan harapan pada sektor perbankan. Bank-bank AS akan mendapat lebih banyak dukungan resmi jika diperlukan, layaknya dukungan yang diberikan kepada deposan Silicon Valley Bank setelah keruntuhannya.

 

Sebelumnya, benchmark minyak mentah telah jatuh ke posisi terendah 15 bulan pada awal minggu lalu. Pelaku pasar khawatir gejolak yang terjadi akan mengakibatkan bank membatasi pinjaman sehingga menghambat aktivitas ekonomi dan mengurangi permintaan energi. 

Fokus selanjutnya bagi investor adalah pertemuan penetapan kebijakan Federal Reserve terkait suku bunga. Sejak dimulainya krisis perbankan awal bulan ini, pasar telah merevisi turun ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Fed berikutnya menjadi 25 basis poin dari 50 basis poin. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement