Rabu 08 Feb 2023 14:50 WIB

Makanan Halal Diperkirakan Melesat di 2028

Pesatnya industri halal karena Islam adalah agama kedua jumlah penganut terbesar.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Lida Puspaningtyas
Sejumlah pengunjung tengah menikmati makanan di kawasan kuliner halal, aman dan sehat serta aman di Taman Valkenet, Kota Bandung, Senin (12/12/2022).
Foto: Pemkot Badung
Sejumlah pengunjung tengah menikmati makanan di kawasan kuliner halal, aman dan sehat serta aman di Taman Valkenet, Kota Bandung, Senin (12/12/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri halal global diprediksi akan dapat bangkit dan terus bertumbuh. Pada tahun 2021 pasar makanan halal global dilaporkan mencapai angka 1,977 miliar dolar AS. Diperkirakan pada tahun 2028 akan terus melesat hingga 3,907 miliar dolar AS dengan CAGR 11,25 persen selama enam tahun.

Dikutip dari Digital Journal, prediksi berkembang pesatnya industri halal ini lantaran Islam adalah agama kedua yang paling banyak penganutnya di dunia setelah Kristen, dengan sekitar 1,98 miliar pengikut di seluruh dunia dan lebih dari 26 negara Muslim. Seperti banyak agama, Islam mengatur satu set pedoman diet bagi orang percaya untuk mengikuti. Aturan-aturan tersebut, berfungsi untuk mengikat pengikut bersama sebagai bagian dari kelompok yang kohesif dan membangun identitas yang unik.

Baca Juga

"Bagi umat Islam, aturan diet untuk mengikuti cukup mudah ketika datang ke makanan dan minuman yang diperbolehkan dan dilarang. Lebih rumit adalah aturan tentang bagaimana makanan hewan dibunuh," tulis Digital Journal dikutip, Rabu (8/2/2023).

Dalm hukum diet Islam menyebutkan bahwa daging, unggas, dan makanan laut termasuk dalam kategori makanan halal. Namun, tetap harus diperhatikan bagaimana hewan-hewan tersebut disembelih sesuai dengan syariat islam, barulah bisa makanan tersebut dikategorikan dalam halal.

Halal lifestyle juga telah menjadi salah satu faktor besar mengapa industri halal terus berkembang. Saat ini, kewaspadaan seorang muslim mengenai produk halal dan bagaimana proses produksi, distribusi, dan konsumsi yang mendukungnya, membuat gaya hidup halal semakin menarik minat banyak orang.

"Seorang Muslim semakin ingin mengikuti diet ketat yang menganut keyakinan agama mereka dan sertifikasi Halal telah menjadi alat pemasaran yang penting bagi bisnis makanan yang ingin menarik pelanggan Muslim," tulis Digital Journal.

Sementara itu, beberapa orang Barat mengasosiasikan makanan halal sebagai aturan dari sebuah agama. Terlebih, makanan halal seringkali lebih mahal daripada makanan non halal.

Uniknya, para penjual dengan totalitasnya melayani para pelanggan Muslim dengan menawarkan penawaran khusus untuk produk halal. Banyak pula penjual yang seringkali mengembangkan makanan dan camilan tradisional versi halal, seperti Hamburger Helper dengan saus kalkun halal.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement