Senin 26 Dec 2022 19:18 WIB

Tahun Depan, Sandiaga Target Kunjungan Wisman Tembus 7,4 Juta

Kunjungan wisman per Oktober 2022 sudah mencapai 3,92 juta kunjungan.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Pedagang memperlihatkan wayang kepada wisatawan mancanegara (ilustrasi).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pedagang memperlihatkan wayang kepada wisatawan mancanegara (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan dapat mencapai antara 3,5 juta hingga 7,4 juta kunjungan. Meski demikian, sektor pariwiata tahun depan masih akan menghadapi tantangan besar imbas kemungkinan resesi ekonomi global.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan, capaian sementara kunjungan wisman per Oktober 2022 sudah mencapai 3,92 juta kunjungan atau telah melampaui target 3,6 juta tahun ini. Ia menilai, tahun 2022 telah menjadi titik balik kebangkitan sektor pariwisata nasional.

Baca Juga

"Tahun 2023 kami diberikan target jauh lebih meningkat hampir dua kali lipat," kata Sandiaga dalam Jumpa Pers Akhir Tahun di Jakarta, Senin (26/12/2022).

Target kunjungan yang tinggi itu bukan tanpa tantangan. Sandiaga mengungkapkan, pariwisata nasional masih tetap menghadapi tantangan klasik, terutama soal mahalnya tiket pesawat. Namun kendala itu memberikan keuntungan karena mendorong perubahan struktur kualitas wisman yang berkunjung.

"Wisman (kelas atas) akan lebih lama tinggal dan dampak ekonomi dari masyarakat akan lebih tinggi," ujarnya menambahkan.

Wisman asal ASEAN dan Eropa diproyeksi masih memegang porsi paling tinggi berdasarkan tren tahun 2022. Adapun, pasar utama yang diharapkan menjadi penyumbang wisman di antaranya Australia, Singapura, Malaysia, India, serta Inggris.

Sandiaga pun mencatat potensi pemeasanan tiket wisman ke Indonesia tahun 2023 bisa mencapai 123 ribu booking. Lima besar pasar wisman hingga periode November 2023 ditempati Australia, Korea Selata, Inggris, Perancis, dan Jerman.

Pasar Eropa diprediksi mengisi sekitar 41,73 persen dari total booking ke Indonesia. Adapun regional Oseania menyumbang 25,7 persen, Asian (selain ASEAN) sebesar 21,7 persen, serta negara ASEAN 2,43 persen.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis, Kemenparekraf, Nia Niscaya, menambahkan, resesi ekonomi dunia sudah diprediksi. Jarak destinasi akan menjadi pertimbangan wisatawan untuk sebelum memutuskan untuk berwisata.

"Tapi, sesuai kebijakan Kemenparekraf, kita akan menyasar negara-negara yang performanya masih bagus," katanya.

Di sisi lain, destinasi wisata di seluruh provinsi terus dipersiapkan untuk menyambut peluang industri wisata 2023. Termasuk industri hotel yang dipastikan akan lebih siap menyambut kedatangan para wisman. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement