Sabtu 17 Dec 2022 05:12 WIB

Kementerian BUMN: BSI Siap Rights Issue Akhir Tahun Ini

Rights issue akan mengubah porsi kepemilikan saham BSI, Bank Mandiri tetap terbanyak.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Asisten Deputi bidang Jasa Keuangan, Kementerian BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, mengatakan Bank Syariah Indonesia (BSI) akan melaksanakan rights issue dalam waktu dekat.
Foto: istimewa
Asisten Deputi bidang Jasa Keuangan, Kementerian BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, mengatakan Bank Syariah Indonesia (BSI) akan melaksanakan rights issue dalam waktu dekat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asisten Deputi bidang Jasa Keuangan, Kementerian BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, mengatakan Bank Syariah Indonesia (BSI) akan melaksanakan rights issue dalam waktu dekat. Roziqin menyebut proses rights issue BSI sudah memasuki tahap finalisasi.

"(Rights issue) BSI ini sudah efektif di OJK, akhir tahun ini, yang jelas eksekusinya sudah selesai semua, dia akan masuk dana Rp 5 triliun lebih untuk memperkuat permodalan BSI dan memperkuat perbankan syariah di Indonesia," ujar Rozikin saat Media Briefing Capaian Kinerja BUMN 2022 di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (15/12/2022).

Baca Juga

Roziqin berharap aksi korporasi tersebut kian memperkokoh posisi BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan peningkatan jumlah nasabah, dari saat ini sebanyak 17 juta nasabah menjadi 40 juta nasabah pada 2025.

Roziqin mengatakan aksi korporasi ini akan mengubah porsi pemegang saham BSI dengan Bank Mandiri tetap sebagai pemegang saham terbesar. Sedangkan porsi saham BNI dan BRI akan terdelusi.

"Mandiri akan mempertahankan kepemilikannya, dia chip-in juga kalau tidak salah sekitar Rp 200-an miliar atau berapa. Kemudian dari BNI terdelusi sedikit, BRI juga terdelusi, tapi tetap mempertahankan di atas 15 persen lebih," ucap dia.

Berdasarkan catatan, saham BSI diisi oleh Bank Mandiri sebagai pemegang porsi saham mayoritas dengan 50,83 persen, disusul BNI sebesar 24,85 persen, BRI sebesar 17,25 persen, serta pemegang saham lainnya dan publik sebesar 7,07 persen. Sementara itu, pemerintah juga menempatkan satu lembar saham merah putih di BSI pada Mei lalu.

Roziqin menambahkan inisiatif Kementerian BUMN mendorong merger tiga bank syariah himbara menjadi BSI pada Februari lalu terbukti mampu menciptakan bank syariah terbesar di tanah air dengan sinergi value yang positif. Hal ini, dia katakan, tercermin dari lonjakan pertumbuhan customer dan volume bisnis yang berujung pada pertumbuhan laba yang konsisten dengan tumbuh di kisaran 40 persen selama dua tahun berturut-turut, serta mencapai rasio profitability, baik ROE dan ROA yang jauh meningkat dibandingkan bank legacy.

"Kalau kita lihat net income BSI itu naik 46,5 persen, ROA-nya naik di atas 50 persen, ROE-nya juga naik di atas 55 persen, nasabahnya saat awal di awal merger itu hanya sekitar 13 juta, sekarang sudah lebih dari 17 juta. Jadi prospek BSI ini juga sangat bagus," katanya menambahkan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement