Kamis 17 Nov 2022 05:00 WIB

Jurus Pupuk Indonesia Dukung Target Pengurangan Emisi Karbon

Pupuk Indonesia akan melakukan pengembangan blue ammonia dan green ammonia.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Sejumlah pekerja sedang mengangkut pupuk urea bersubsidi di Gudang Lini III Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jumat (19/8/2022). PT Pupuk Indonesia (Persero) atau PI berkomitmen mendukung target penurunan emisi karbon dan net zero emission (NZE) pemerintah yang ditargetkan tercapai pada 2060.
Foto: Lilis Sri Handayani/Republika
Sejumlah pekerja sedang mengangkut pupuk urea bersubsidi di Gudang Lini III Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jumat (19/8/2022). PT Pupuk Indonesia (Persero) atau PI berkomitmen mendukung target penurunan emisi karbon dan net zero emission (NZE) pemerintah yang ditargetkan tercapai pada 2060.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pupuk Indonesia (Persero) atau PI berkomitmen mendukung target penurunan emisi karbon dan net zero emission (NZE) pemerintah yang ditargetkan tercapai pada 2060. Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia Nugroho Christijanto mengatakan perusahaan telah memiliki tim dekarbonisasi yang menyusun peta jalan dekarbonisasi PI Grup dan terus menjalankan inisiatif strategis seperti efisiensi proses dan revitalisasi pabrik eksisting.

"Pupuk Indonesia juga akan melakukan pengembangan blue ammonia dan green ammonia sebagai energi carrier untuk hydrogen," ujar Nugroho dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Baca Juga

Berdasarkan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), ucap Nugroho, lemerintah Indonesia menaikkan target pengurangan emisi menjadi 31,89 persen pada 2030 secara swadaya dan 43,20 persen dengan dukungan internasional.

"Kami ingin menyampaikan, Pupuk Indonesia sebagai salah satu BUMN mendukung target pemerintah untuk mencapai target penurunan emisi yang tertuang dalam NDC dan net zero emission 2060," sambung Nugroho.

Nugroho menjelaskan Amonia selama ini telah menjadi sumber utama untuk pupuk Nitrogen dan sangat diperlukan oleh tanaman. Ia menyebut Amonia yang disebut dengan grey ammonia membantu pencapaian zero hunger 2030 dalam Sustainable Development Goals. Namun, lanjutnya, proses produksi grey ammonia menimbulkan emisi yang berasal dari bahan baku energi fosil dan proses pembakaran energi fosil untuk menghasilkan panas dengan temperatur tinggi.

"Dekarbonisasi untuk industri pupuk secara teknis memungkinkan namun membutuhkan terobosan dari sisi teknologi, perubahan preferensi pelanggan dan tentunya terobosan regulasi," lanjutnya.

Melihat tantangan dan peluang yang ada, Nugroho sampaikan, PI akan melakukan pengembangan blue ammonia dan green ammonia. Nugroho memproyeksikan kebutuhan blue dan green ammonia akan mulai berkembang pada 2030 dan terus meningkat hingga 2060.

"Permintaan pada 2060 akan mencapai 7 juta ton ekivalen hidrogen, yang mencakup 50 persen kebutuhan shipping fuel, 7 persen kebutuhan bahan bakar truk dan 4 persen sektor tenaga listrik," ucap dia.

Nugroho mengatakan peluang blue ammonia terbilang cukup besar dengan adanya kebutuhan Pemerintah Jepang melakukan co-firing ammonia pada pembangkit listriknya. Diproyeksikan kebutuhan blue ammonia pemerintah Jepang sebesar 3 juta ton pada 2030 dan meningkat menjadi 30 ton pada 2050. Sementara itu, sambung dia, pengembangan green ammonia sangat bergantung pada akses listrik murah tanpa karbon.

"Pemerintah sedang mempercepat pengembangan energi terbarukan dan pangsa energi terbarukan sebagai pasokan energi primer telah meningkat hingga 63 persen. Ini akan bermanfaat bagi industri dan tentunya untuk industri pupuk," kata Nugroho.

Untuk mencapai pengurangan emisi industri yang signifikan, dia katakan, Pupuk Indonesia Group telah berkomitmen dan menjalankan berbagai inisiatif sejak dekade terakhir.

"Melalui revitalisasi industri pupuk, kami telah membangun pabrik Pupuk Kaltim-5 di Bontang, Pusri-IIB di Palembang, dan Amurea II di Gresik. Pabrik baru dengan teknologi terbaru ini mengelola efisiensi energi dan mengarahkan kami untuk memenuhi target NDC dibandingkan dengan bisnis seperti biasa," ucap Nugroho.

Nugroho menyampaikan engembangan blue ammonia sendiri sangat bergantung pada carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture utilization and storage (CCUS). IEA menyatakan penerapan CCS dapat menurunkan emisi dari produksi amonia sebesar 65 persen hingga 70 persen.

"Dengan jumlah yang besar ini, dapat dikatakan bahwa CCS diperlukan untuk pengembangan blue ammonia.  PI telah mempelajari ketersediaan lokasi penyimpanan karbon di Indonesia dan menempatkan proyek blue ammonia yang akan dikembangkan di dekat lokasi tersebut," sambungnya.

Selain inisiasi di atas, ucap Nugroho, Pupuk Indonesia juga mengembangkan kawasan berbasis energi bersih, KEK Arun dan Kluster Industri Hijau IMIA, merupakan dua proyek PI di Aceh. Pengembangan KEK Arun telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2017 dan akan dikembangkan oleh konsorsium Pupuk Indonesia, Pertamina, Pelindo, dan Badan Usaha Milik Daerah Aceh.

"Pupuk Indonesia akan memimpin pengembangan KEK Arun. Bersama PLN, Pupuk Indonesia juga akan mengembangkan zona kimia bernama Green Industry Cluster IMIA seluas 130 ha dan akan membangun pabrik baru blue dan green ammonia di zona ini," ucapnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement