Selasa 15 Feb 2022 22:07 WIB

Impor Minyak Mentah Naik 43,66 Persen

Kenaikan nilai impor minyak mentah sejalan dengan melonjaknya harga minyak dunia.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha
Matahari terbenam di balik pompa minyak di Karnes City, Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka impor minyak mentah pada Januari 2022 naik 43,66 persen jika dibandingkan Januari 2021.
Foto: AP Photo/Eric Gay
Matahari terbenam di balik pompa minyak di Karnes City, Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka impor minyak mentah pada Januari 2022 naik 43,66 persen jika dibandingkan Januari 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka impor minyak mentah pada Januari 2022 naik 43,66 persen jika dibandingkan Januari 2021. Kenaikan impor minyak mentah pada Januari ini terjadi lantaran kenaikan harga minyak dunia hingga di atas 90 dolar AS per barel. 

BPS mencatat, realisasi impor minyak mentah pada Januari 2022 mencapai 2,23 miliar dolar AS. Nilai ini naik dibandingkan realisasi 2021 sebesar 1,55 miliar dolar AS.

Baca Juga

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setyanto menjelaskan mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP) Januari dibanderol 85,89 dolar AS per barel. Kondisi kenaikan harga inilah yang membuat secara nominal ada kenaikan.

"Untuk komoditas minyak mentah month to month naik 17,08 persen, secara year on year naik 61,4 persen," ujar Setyanto, Selasa (15/2/2022).

Kepala Biro Klik Kementerian ESDM Agung Pribadi menjelaskan kenaikan ICP ini tak lain karena kondisi harga minyak mentah di dunia juga sedang tinggi. Naiknya harga minyak dunia ini didorong situasi perang dingin antara Ukraina dan Rusia.

"Kazakhstan sebagai salah satu negara OPEC Plus dengan produksi 1,6 juta barel per hari, mengalami kendala logistik yang berpotensi menyebabkan penurunan produksi pasca demonstrasi yang dipicu kenaikan harga bahan bakar," ujar Agung.

Libya saat ini hanya memproduksikan minyak mentah pada kisaran 700 ribu barel per hari dari potensi produksi kurang lebih 1,2 juta barel per hari. Negara tersebut mengalami penurunan produksi minyak terendah dalam 14 bulan terakhir akibat blokade di lapangan minyak utama area barat dan disertai perbaikan pipa yang menghubungkan Lapangan Samrah dan Dahra ke terminal Es Sider (kapasitas 350 ribu barel per hari).

Uni Emirat Arab (UEA), negara produsen minyak OPEC tertinggi ketiga, mengalami serangan drone dan misil yang mematikan dari pemberontak Yemeni Houthi di depot bahan bakar Mussafah, ADNOC dan bandara internasional UEA.

"Faktor lainnya adalah terjadinya ledakan pipa di Turki dengan kapasitas penyaluran sebesar 450 ribu barel per hari minyak dari Utara Irak ke Pelabuhan Ceyhan-Mediteranian sehingga memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan minyak," ujar Agung.

Selain itu, terkait permintaan minyak dunia, berdasarkan Laporan IEA (International Energy Agency) bulan Januari 2022, terdapat peningkatan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2021 dan 2022 sebesar 200 ribu barel per hari, menjadi 5,5 juta barel per hari pada 2021 dan 3,3 juta barel per hari pada 2022 yang dipicu oleh relaksasi pembatasan Covid.

“Komite penasehat OPEC Plus melaporkan implikasi Omicron akan pertumbuhan permintaan dunia akan terbatas. Lebih lanjut, Sekretaris Jendral OPEC, Haitham Al-Ghais menyampaikan bahwa permintaan minyak dunia akan kembali ke tingkat sebelum pandemik pada akhir tahun 2022,” ujar Agung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement