Jumat 08 Oct 2021 21:33 WIB

Indonesia Tak Perlu Banyak Bangun Pelabuhan Internasional

Indonesia harus hati-hati mengembangkan sistem transportasinya.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Fuji Pratiwi
Pengamat Ekonomi Faisal Basri.
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Pengamat Ekonomi Faisal Basri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom senior Faisal Basri menyebut, pemerintah tidak perlu membangun pelabuhan internasional terlalu banyak. Menurutnya, kebutuhan pelabuhan internasional belum besar.

"Jadi pelabuhan jangan canggih-canggih. Jangan bangun banyak pelabuhan internasional. Ada Patimban, ada Kuala Tanjung, ada Belawan. Aduh! Ini repot jadi bersaing dengan sesama kita sendiri," kata Faisal dalam webinar Analisis Lingkungan Ekonomi dan Bisnis Terhadap Disrupsi di Sektor Transportasi, Jumat (8/10).

Baca Juga

Dia menegaskan, perdagangan di dalam Indonesia juga akan memperbaiki ekonomi negara. Terlebih, menurutnya, manufaktur Indonesia belum mencapai 50 persen dari total ekspor.

Faisal mengatakan, selama ini komoditas yang diekspor seperti batu bara, sawit, besi, dan baja yang masih 25 persen diolah. "Kondisi ini membuat kita tidak perlu pakai kontainer. Maka harus sesuai ini, kalau mau memajukan perdagangan dengan ongkos lebih murah yaitu kontainer, tapi apa masa batu bara?" ungkap Faisal.

Untuk itu, Faisal menegaskan Indonesia harus hati-hati mengembangkan sistem transportasinya. Dia mengatakan, Indonesia harus memilih model bisnis yang sesuai.

"Tidak usah beli pesawat paling besar di dunia. Tidak usah punya kapal terbesar di dunia. Karena kita akan dagangnya dengan Asia dan sesama Indonesia," jelas Faisal.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement