Sabtu 21 Aug 2021 03:38 WIB

Schneider Electric Ajak Sektor Korporasi Tekan Emisi Karbon 

Permasalahan inefisiensi energi hingga saat ini masih kurang mendapatkan perhatian.

Rep: Novita Intan/ Red: Satria K Yudha
Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM), Jakarta, Rabu (24/3/2021). Kementerian ESDM hingga Maret 2021 telah membangun sebanyak 193 unit PLTS atap gedung, sementara sepanjang 2021-2030 pemerintah juga menargetkan pembangunan PLTS dengan kapasitas sebesar 5,432 Mega Watt untuk menurunkan emisi hingga 7,96 juta ton karbondioksida.
Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM), Jakarta, Rabu (24/3/2021). Kementerian ESDM hingga Maret 2021 telah membangun sebanyak 193 unit PLTS atap gedung, sementara sepanjang 2021-2030 pemerintah juga menargetkan pembangunan PLTS dengan kapasitas sebesar 5,432 Mega Watt untuk menurunkan emisi hingga 7,96 juta ton karbondioksida.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Perusahaan pengelolaan energi dan automasi, Schneider Electric, mengajak sektor korporasi mengambil tindakan nyata dalam membangun masa depan rendah karbon. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakselerasi penerapan solusi digital untuk pengelolaan energi yang lebih cerdas dan efektif, pemanfaatan energi bersih, serta mengadopsi sistem pengawasan dan evaluasi terukur atas strategi perubahan iklimnya.

Inefisiensi energi hingga saat ini masih kurang mendapatkan perhatian bila dibandingkan dengan sampah plastik, makanan dan tekstil. Padahal, International Energy Agency menyebutkan, hanya sepertiga dari total energi yang dihasilkan diubah menjadi energi yang dikonsumsi oleh transportasi, industri, bangunan, dan perangkat. Sementara sisanya hilang atau terbuang dalam proses produksi dan transmisi. 

 

Bila jumlah energi yang hilang dapat dikurangi dan penggunaannya lebih efisien, emisi karbon diperkirakan dapat dikurangi hingga setengahnya. Disinilah peran teknologi digital. 

 

 

Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, listrik merupakan energi yang paling efisien dan vektor terbaik dalam dekarbonisasi. Sementara, teknologi digital memungkinkan automatisasi pengelolaan dan pengukuran konsumsi energi yang lebih efisien dan akurat. "Perpaduan listrik dan teknologi digital memfasilitasi peralihan ke energi yang lebih bersih, sekaligus menghilangkan inefisiensi energi. Di Schneider Electric, kami menyebutnya Electricity 4.0, era baru dari energi masa depan,” kata Rossi dalam siaran pers, Jumat (20/8). 

 

Menurut dia, korporasi di sektor transportasi, industri dan bangunan di seluruh dunia tengah menghadapi tekanan global dalam mengurangi produksi emisi karbon dalam kegiatan operasionalnya. Namun, mereka juga harus mempertahankan keberlanjutannya, akibat dampak dari pandemi Covid-19. 

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, kata dia, dibutuhkan sistem pengelolaan dan pengawasan konsumsi energi yang cerdas untuk mengukur keberhasilan strategi keberlanjutannya. Rossi mengatakan, Schneider Electric global pada tahun ini telah merilis Climate Change Advisory Service. "Program ini untuk memberikan solusi dalam mendukung strategi keberlanjutan bisnis dan aksi iklim korporasi," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apakah internet dan teknologi digital membantu Kamu dalam menjalankan bisnis UMKM?

  • Ya, Sangat Membantu.
  • Ya, Cukup Membantu
  • Tidak
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement