Selasa 25 May 2021 02:04 WIB

Neraca Dagang Surplus, Lutfi: Pemulihan Ekonom Menguat

Neraca perdagangan April 2021 kembali surplus sebesar 2,19 miliar dolar AS.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Neraca dagang kuartal I 2021 surplus
Foto:

Sementara Indonesia, perekonomiannya berada pada fase goldilocks (pertumbuhan ekonomi ideal tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat) yang ditopang faktor eksternal berupa kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi sejumlah negara.

“Pada April 2021 kinerja ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa telah kembali pulih ke level sebelum pandemi. Tanda penguatan kinerja ekspor juga terus terlihat di kawasan Asia, di antaranya Asia Timur sebesar 6,17 persen (MoM) dan Asia Tenggara sebesar 3,91 persen (MoM). Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi perdagangan di kawasan Asia masih sangat besar,” kata dia.

Secara kumulatif, total nilai ekspor Indonesia selama Januari─April 2021 mencapai 67,38 miliar dolar AS, meningkat sebesar 24,96 persen (YoY). Ekspor nonmigas, sepanjang Januari−April 2021 naik sebesar 24,84 persen, begitu juga dengan ekspor migas yang turut meningkat sebesar 27,14 persen.

Impor terkendali

Impor Indonesia pada April 2021 mencapai 16,29 miliar dolar AS, turun sebesar 2,98 persen (MoM) atau naik sebesar 29,92 persen (YoY). Penurunan kinerja ini dipicu penurunan impor migas sebesar 11,22 persen (MoM) menjadi 2,03 miliar dolar AS dan penurunan impor nonmigas sebesar 1,69 persen (MoM) menjadi 14,26 miliar dolar AS.

Penurunan impor terbesar berasal dari impor produk farmasi (HS 30) yang turun 27,35 persen (MoM) dengan nilai impor sebesar 0,19 miliar dolar AS, ampas/sisa industri (HS 23) turun 26,68 persen (MoM) dengan nilai impor 0,37 miliar dolar AS, serealia (HS 10) turun 20,21 persen dengan nilai impor 0,27 miliar dolar AS, berbagai produk kimia (HS 38) turun 19,30 persen (MoM) dengan nilai 0,31 miliar dolar AS, serta karet dan produknya (HS 40) turun 11,22 persen (MoM) dengan nilai 0,21 miliar dolar AS.

“Meskipun secara bulanan menurun, jika dibandingkan April 2020 kinerja impor periode ini menjadi sinyal peningkatan aktivitas industri dan perekonomian nasional,” jelas Mendag.

Pada April 2021, impor barang konsumsi tumbuh sebesar 12,89 persen. Impor barang konsumsi yang mengalami kenaikan terbesar di antaranya adalah gula mentah (raw sugar), bawang putih, anggur segar, dan daging sapi beku.

Mendag menegaskan, kenaikan ini merupakan langkah antisipasi pemerintah dalam menjamin kecukupan stok pasokan dan stabilitas harga bahan pangan periode Ramadhan-Lebaran.

Sementara itu, impor bahan baku/penolong dan barang modal masing-masing turun sebesar 3,63 persen dan 9,05 persen (MoM). Namun, jika dibandingkan April 2020, impor seluruh golongan penggunaan barang menunjukkan kenaikan, impor barang konsumsi naik sebesar 34,11 persen, bahan baku/penolong naik sebesar 33,24 persen, dan barang modal naik sebesar 11,55 persen.

Berdasarkan negara asal, China masih menjadi negara asal impor terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai 4,60 miliar dolar AS atau dengan proporsi mencapai 28,27 persen dari total impor Indonesia dengan produk impor terbesar adalah telepon seluler.

Sementara itu, impor dari Amerika Serikat meningkat sebesar 9,39 persen dibanding Maret 2021, dengan komoditas impor terbesar berupa kacang kedelai.

Selain China dan Amerika Serikat, impor dari Hong Kong juga menunjukkan kenaikan cukup tinggi sebesar 38,86 persen dengan komoditas terbesar berupa emas.

Secara kumulatif, total impor Indonesia pada Januari-April 2021 ini sebesar 59,67 miliar dolar AS, naik 15,40 persen (YoY). Pertumbuhan impor tersebut disebabkan oleh naiknya impor nonmigas sebesar 15,39 persen dan migas sebesar 15,54 persen (YoY).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement