Rabu 23 Sep 2020 12:33 WIB

Petani Dukung Upaya Diversifikasi Pangan Lokal

Petani bisa mengganti komoditas beras dengan lainnya asalkan ada permintaan konsumen

Rep: Dedy Darmawan Nasution / Red: Hiru Muhammad
Pengembangan pangan lokal menjadi salah satu program yang sedang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah Pandemi Covid 19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini seperti ubi kayu, ubijalar, talas, ganyong, porang, sagu dan lainnya.
Foto: istimewa
Pengembangan pangan lokal menjadi salah satu program yang sedang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah Pandemi Covid 19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini seperti ubi kayu, ubijalar, talas, ganyong, porang, sagu dan lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mendukung upaya pemerintah untuk mulai menggencarkan diversifikasi pangan lokal. Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir, mengatakan, petani akan mempersiapkan pangan lokal seiring minat masyarakat untuk beralih ke non beras."(Pangan lokal) jangan dipaksakan, tapi dijiwai dan dinikmati bahwa pangan lokal itu sehat dan kita harus bisa terbiasa mengkonsumsinya," kata Winarno dalam webinar KTNA, Rabu (23/9).

Winarno mengatakan, petani  mendukung jika pemerintah ingin menurunkan konsumsi beras per kapita. Pasalnya, mulai saat ini pemerintah dan para pemangku kepentingan harus melihat kemampuan dan ketersediaan beras di Indonesia.

Dari sisi produksi, pangan lokal berbasis kewilayahan tidak memiliki masalah besar. Petani bisa dengan mudah mengganti komoditas beras yang biasa rutin dibudidayakan. Hanya saja, itu perlu dibarengi dengan permintaan dari konsumen. "Soal produksi dan budidaya tidak usah khawatir, yang penting petani itu punya jalur yang jelas, kemana hasil taninya akan dijual," kata Winarno.

KTNA menyarankan agar langkah pemerintah yang mulai mengkampayekan diversifikasi pangan disertai dengan upaya-upaya menghubungkan petani dengan perusahaan yang bisa menyerap hasil produksi. Sebab, perusahaan yang bertindak sebagai off taker suatu komoditas berkaitan dengan kemudahan mendapatkan permodalan.

Winarno menjelaskan, rata-rata perbankan memiliki program pembiayaan kredit untuk sektor pangan. Namun, bank hanya mau memberikan pinjaman bagi petani yang sudah memiliki mitra penyerap hasil produksi. Hal itu sekaligus mengurangi risiko dari pinjaman yang diberikan kepada petani. "Perlu ada off taker, seperti di petani padi, off takernya ada Bulog. Jadi bisa dia dapat pinajam bank untuk modal," kata dia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono, mengatakan, pangan lokal berperan penting dalam penguatan gizi nasional. Ia menuturkan, pangan lokal seperti umbi-umbian punya nilai gizi yang tinggi ketimbang beras meskipun sama-sama sebagai penghasil karbohidrat. "Pengembangan pangan lokal tidak hanya sehat dan bergizi, tapi penting juga memperbaiki kualitas konsumsi masyarakat," ujarnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement