Jumat 11 Sep 2020 08:04 WIB

Ingkari Kesepakatan 16 Miliar Dolar, LVMH Digugat Tiffany

LVMH urung menyelesaikan akuisisi Tiffany dalam kontrak senilai 16 miliar dolar AS.

Butik Louis Vuitton, Paris, Prancis, milik LVMH. Intervensi negara Prancis mengubah total upaya menggabungkan beberapa merek mewah paling terkenal di dunia mode.
Foto: EPA
Butik Louis Vuitton, Paris, Prancis, milik LVMH. Intervensi negara Prancis mengubah total upaya menggabungkan beberapa merek mewah paling terkenal di dunia mode.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan perhiasan Tiffany & Co menggugat LVMH pada Rabu setelah perusahaan raksasa barang mewah asal Prancis itu mengatakan pihaknya tidak bisa menyelesaikan kesepakatan senilai 16 miliar dolar AS (sekitar Rp 239 triliun). LVMH menjelaskan, kontrak menjadi buyar karena permintaan pemerintah Prancis dan dampak wabah virus corona.

LVMH, yang dipimpin oleh miliarder Bernard Arnault, mengatakan dewan mereka telah menerima surat dari Kementerian Luar Negeri Prancis yang meminta menunda akuisisi hingga 6 Januari 2021. Ancaman tarif tambahan AS terhadap produk Prancis menjadi pertimbangannya.

Baca Juga

Hal ini, menurut LVMH, membuat mereka tak bisa memenuhi tenggat waktu 24 November untuk menyelesaikan akuisisi. LVMH menyebut, pihaknya tidak bersedia memperpanjang perjanjian lebih lanjut. Intervensi negara Prancis mengubah total upaya menggabungkan beberapa merek mewah paling terkenal di dunia mode, seperti dikutip dari Reuters.

"Saya yakin Anda akan mengerti keharusan untuk ikut andil dalam upaya negara mempertahankan kepentingan nasional," tulis Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, dalam surat yang ditujukan kepada Arnault pada 31 Agustus, berdasarkan terjemahan surat bahasa Inggris yang diterima Tiffany dari LVMH dan diterbitkan pada Rabu.

"Kesepakatan ini tidak bisa terjadi. Kami tidak bisa menyelesaikan kesepakatan," kata kepala keuangan LVMH Jean Jacques Guiony kepada wartawan.

Bloomberg News melaporkan, mengutip sumber yang tidak diidentifikasi, bahwa Arnault meminta bantuan dari pemerintah Prancis untuk menarik diri dari kesepakatan dengan Tiffany, tetapi Guiony mengatakan LVMH tidak tahu akan dikirimi surat itu.

Seorang sumber dari pemerintah Prancis mengatakan surat itu punya "nilai politik" dan dimaksudkan memperingatkan LVMH atas risiko kesepakatan di saat Prancis dan AS sedang tak akur soal tarif perdagangan. Akan tetapi, surat itu hanya bersifat anjuran, bukan kewajiban.

Kerugian finansial akibat pandemi membuat harga kesepakatan jadi kurang menarik bagi LVMH. Penjualan global Tiffany turun 29 persen menjadi 747,1 juta dolar AS dalam tiga bulan yang berakhir pada 31 Juli, meleset dari perkiraan 772 juta dolar AS.

Guiony menyebut kinerja keuangan Tiffany dalam beberapa bulan terakhir "lesu". Belum jelas apakah LVMH berupaya mundur dari akuisisi Tiffany atau menggunakan kendala ini untuk negosiasi ulang biaya kesepakatan. Tiffany sejauh ini menolak upaya untuk membuka kembali negosiasi harga.

sumber : Antara, Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement