Jumat 19 Jun 2020 19:54 WIB

Semen Indonesia Beberkan Kunci Keberhasilan Kinerja 2019

Selama 2019, SIG menjaga pasar, distribusi dan standarisasi operasional perusahaan

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Hiru Muhammad
Direktur Utama PT Semen Indonesia (persero) - Hendi Prio Santoso
Foto: Republika/ Wihdan
Direktur Utama PT Semen Indonesia (persero) - Hendi Prio Santoso

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG Hendi Prio Santoso mengatakan pencapaian positif perseroan selama 2019 tak lepas dari sejumlah strategi yang dilakukan. Dalam RUPST, Semen Indonesia mencatatkan pendapatan sebesar Rp 40,37 triliun pada 2019 atau naik 31,5 persen dibandingkan 2018 yang sebesar Rp 30,69 triliun.

SIG juga mencatatkan total volume penjualan domestik dan ekspor sebesar 42,61 juta ton, termasuk penjualan dari Thang Long Cement (TLCC) Vietnam atau naik 28,5 persen dibanding periode yang sama pada 2018 sebesar 33,17 ton.

Secara umum, kata Hendi, perseroan terus melanjutkan program transformasi biaya kemudian juga pengaturan tata kelola dan tata niaga dalam holding Semen sehingga pada 2019 mampu melakukan efisiensi. Terutama di biaya produksi, biaya rantai pasok, dan juga telah berhasil mengkonsolidasikan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk atau eks Holcim Indonesia ke dalam holding BUMN semen di bawah SIG.

"Ini pencapaian yang berhasil dengan baik sehingga kami mempunyai skala yang cukup untuk melakukan penggalian potensi efisiensi dari logistik, pengadaan, biaya produksi dan secara strategis telah lebih memantapkan posisi SIG sebagai pemain terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara pada 2019," ujar Hendi usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2020 di Jakarta, Jumat (19/6).

Hendi mengatakan SIG terus memperluas skala produksi dengan adanya sentra produksi di Jawa Barat yang merupakan sentra produksi semen terbesar kedua setelah di Jawa Timur.  Selain Jatim dan Jabar, SIG juga telah memiliki //packing plant// atau pabrik pengemasan yang tersebar di sejumlah daerah seperti di Cilacap dan Rembang, Jawa Tengah.

"Kami cukup ekspansif dari sektor produksi dan //packing plant// melengkapi apa yang kita sudah miliki agar kita dapat melayani wilayah indonesia bagian timur lebih baik," lanjut Hendi.

Hendi menyebut nilai strategis bergabungnya eks Holcim akan dirasakan pemegang saham pada tahun-tahun mendatang. Kata Hendi, di samping penguatan basis semen, perusahaan juga melakukan transformasi tidak hanya di industri semen tapi juga di hilir. SIG, lanjut Hendi, tidak hanya sekadar menyediakan produk namun juga solusi di jasa bangunan.

"Jadi kalau selama ini kita hanya melayani bahan baku, ke depan kita juga menyediakan solusi kepada konsumen yang membutuhkan solusi di bidang bangunan," ucap Hendi.

Direktur Pemasaran dan Supply Chain Semen Indonesia Adi Munandir menyebut kunci sukses dari sisi korporasi SIG selama 2019 lantaran berhasil melakukan integrasi dari aset dan kapabilitas eks Holcim sehingga SIG memiliki portfolio pasar yang tidak hanya tergantung optimaliasi penjualan di Pulau Jawa sebagai pasar namun juga pasar di luar Pulau Jawa.

"Ini memberikan kami fleksibiltas dan kemampuan mengoptimalisasi kinerja dengan melihat peluang secara lebih luas," kata Adi.

Direktur Strategi Bisnis dan Pengembangan Usaha Semen Indonesia Fadjar Judisiawan mengatakan penerapan program transformasi biaya memberikan dampak besar bagi efisiensi perusahaan. Hal itu ditopang dengan langkah SIG melakukan sinergi dan integrasikan pola operasi.

"Kita mempunyai fasilitas dari Indonesia barat sampai ke timur. Ini membantu kami mengurangi biaya, terutama biaya distribusi," ucap Fadjar.

Tak hanya itu, lanjut Fadjar, bergabungnya eks Holcim juga memberikan warna baru bagi SIG dalam hal pengembangan produk baru. Kata Fajar, PT Solusi Bangun Indonesia yang mempunyai //knowledge// dan kapabilitas yang relatif lebih berkembang sehingga mendorong munculnya produk baru.

Direktur Keuangan Semen Indonesia Doddy Sulasmono mengatakan hal penting yang dilakukan SIG selama 2019 ialah menjaga pemenuhan pasar, distribusi, dan juga standarisasi operasional yang ada di infrastruktur perusahaan. Doddy menilai efisiensi perseroan terbantu dengan banyaknya fasilitas seperti 30 pabrik pengemasan SIG dari Aceh hingga Papua yang mampu menekan tingginya biaya produksi.

Doddy menyebut 2019 bukan tahun yang mudah mengingat adanya pesta demokrasi dan saat yang bersamaan perseroan melakukan akuisisi terhadap PT Solusi Bangun Indonesia, menambah pinjaman untuk SIG, dan juga tambahan pinjaman dari perusahaan yang diakuisisi.

"Kunci keuangan tentu kita mengelola cash flow dengan baik, kita cari sumber pendanaan lebih murah dan tidak mengandung potensi risiko dari forex karena kita sebagian besar perusahaan berbasis rupiah income-nya," ucap Doddy.

Selain itu, lanjut Doddy, SIG juga menyatukan seluruh pinjaman dari anak perusahaan agar tersentralisasi sehingga SIG punya keseragaman tarif bunga yang jauh lebih baik."Hasilnya menunjukkan bisa kita lihat tidak terlalu buruk bottom linenya. Ebitda juga tetap tumbuh," kata Doddy menambahkan.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement