Senin 15 Jun 2020 00:52 WIB

KNEKS: Potensi Pasar Modal Syariah Terus Berkembang

KNEKS berusaha mengembangkan pasar modal syariah melalui pengembangan ekosistem.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Agus Yulianto
Sukuk Ritel (Ilustrasi)
Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Sukuk Ritel (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) meyakini potensi pasar modal syariah terus berkembang. Masa pandemi Covid-19 meningkatkan potensi tersebut dan dinilai perlu disambut oleh industri dan pasar.

Direktur Hukum, Promosi, dan Hubungan Eksternal KNEKS, Taufik Hidayat menyampaikan, di sisi global, Indonesia sudah cukup dipandang. Indonesia menempati posisi keenam setelah Qatar dalam penerbitan sukuk korporasi dengan nilai outstanding Rp 29 triliun.

Pada 2018, Indonesia juga merupakan negara pertama yang menerbitkan Green Sukuk untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup. Di pasar sukuk, return sempat mengalami penurunan karena pandemik.

"Tapi sebagai investor maka valuasi yang paling rendah atau mendekati bottom price itu adalah idaman kita untuk cari instrumen investasi yang baik," katanya dalam Webinar KNEKS terkait Potensi Pasar Modal Syariah, beberapa waktu lalu.

Taufik mengingatkan, bahwa sejumlah instrumen masih aman untuk investasi. Selain sukuk yang sifatnya lebih terjadi, ada juga instrumen reksa dana pasar uang. Sementara untuk jangka panjang, instrumen saham masih memiliki potensi return tertinggi, meski dengan risiko tinggi juga.

Taufik menyarankan agar milenial segera masuk ke pasar saham karena masih punya waktu yang panjang. Namun tetap harus dibarengi dengan kehati-hatian. Dalam memilih instrumen dan emiten investasi, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan.

Yakni, memiliki fundamental bisnis yang kuat, kapitalisasi yang besar untuk jaga likuiditas di pasar, punya ukuran outstanding share yang besar, dan di kondisi saat ini masih undervalued sehingga ada potensi kenaikan yang signifikan.

"Tinggal kita pilih sektor mana yang ada potensial upside-nya tinggi dan tetap memiliki fundamental sangat kuat," katanya.

KNEKS sendiri berusaha mengembangkan pasar modal syariah melalui pengembangan ekosistem, baik dari sisi pasokan yakni institusi atau industri, juga permintaan yakni pasar yang akan menyerap instrumen. Keduanya diperkuat secara pararel.

Sisi supply harus terus melakukan inovasi produk, pendalaman pasar keuangan, efisiensi, dan peningkatan performa. Sementara dari sisi demand, harus disiapkan investor institusi besar misal pemilik dana jangka panjang dan individu yang bisa menyerap lebih banyak.

"Institusi dana pensiun, dan jaminan sosial kini ada yang sedang kembangkan skema layanan syariah, sehingga mudah-mudahan nanti akan lebih intens lagi untuk melakukan transaksi di pasar modal syariah," katanya.

Kunci untuk pendalaman pasar modal syariah juga adalah literasi ekonomi dan keuangan syariah. Ini menjadi pekerjaan besar bagi semua pihak untuk sama-sama melakukan peningkatan edukasi dan pendekatan kepada masyarakat. Indeks literasi syariah 2019 tercatat 8,9 persen, naik dari 8,1 persen pada 2016.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement