Jumat 27 Mar 2020 14:14 WIB

Paling Banyak Dicari Konsumen, Harga Telur di AS Melambung

Harga grosir telur meningkat tiga kali lipat dibandingkan awal Maret.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Telur
Foto: djeni.com
Telur

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Peningkatan permintaan terhadap telur di Amerika Serikat (AS) menyebabkan harga komoditas meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Tren terjadi karena konsumen berebut telur untuk menambah persediaan makanan mereka mengingat adanya kebijakan lockdown di banyak negara.

Seperti dilansir di Reuters, Kamis (27/3), harga grosir telur Midwest Large mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, sebesar 3,09 dolar AS per lusin. Harga tersebut tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan pada awal Maret, sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan keadaan darurat nasional.

Baca Juga

Data ini disampaikan layanan pelaporan pasar Urner Barry yang menyediakan pemantauan harian terhadap harga beberapa komoditas, termasuk telur.

Kenaikan harga telur memiliki konsekuensi besar bagi konsumen, mengingat telur merupakan bentuk protein yang tidak mahal. Selain itu, telur merupakan makanan pokok bagi 93 persen rumah tangga AS.

Direktur Urner Barry, Brian Moscoguiri mengatakan, lonjakan harga grosir sekarang sudah melebihi kondisi pada 2015, ketika wabah flu burung terjadi. Saat itu, peningkatan permintaan juga terjadi.

Moscoguiri menampik pernyataan beberapa konsumen yang menilai produsen dan distributor sedang memainkan harga. Kondisi sekarang terjadi karena adanya fungsi pasar, yakni peningkatan permintaan berdampak pada peningkatan harga. "Pemasok melihat adnaya kenaikan permintaan empat sampai enam kali, dan pada dasarnya pasokan masih ada," ucapnya.

Moscoguiri mengatakan, harga grosiran telur sebenarnya sempat turun pada pertengahan Januari. Tren ini terjadi pada telur Midwest Big yang kerap menjadi tolok ukur, turun hingga 0,78 dolar AS pada pertengahan Januari, mencerminkan penurunan ke titik normal pasca-liburan.

Tapi, harganya naik pada Februari menjadi 1,03 dolar AS per lusin dan terus bertahan hingga awal Maret.

Sejak saat itu, permintaan terhadap telur terus meningkat. Konsumen berlomba mengisi dapur dan lemari es mereka untuk menyiapkan diri perpanjangan kebijakan shutdown di daerah mereka seiring upaya pemerintah dalam menahan laju penyebaran virus corona (Covid-19).

Profesor ekonomi pertanian di Universitas Purdue, Jayson Lusk, mengatakan, sulit untuk menjelaskan apakah kenaikan harga telur disebabkan peningkatan permintaan atau oportunisme dari pihak pemasok. "Yang mendorong kenaikan harga adalah permintaan lebih tinggi, konsumen ingin dan mau membayar lebih untuk telur," ucapnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement