Jumat 07 Feb 2020 15:29 WIB

Apindo Berharap Penghentian Impor dari China tidak Lama

Sektor usaha terdampak wabah corona di China adalah farmasi dan tekstil

Pekerja memilah buah impor yang dijual disalah satu agen penjualan buah buahan. ilustrasi
Foto: ANTARA FOTO
Pekerja memilah buah impor yang dijual disalah satu agen penjualan buah buahan. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah berharap penghentian impor dari China oleh pemerintah tidak berlangsung lama. Penghentian impor ini terkait upaya mengantisipasi penyebaran virus corona.

"Kalau terlalu lama, bisa setop produksi teman-teman pengusaha yang bahan bakunya masih impor dari sana. Selain itu, kasihan juga pekerja yang kemudian harus dirumahkan karena tidak produksi," kata Ketua Apindo Jateng Frans Kongi di Semarang, Jumat (7/2).

Baca Juga

Ia menjelaskan pengusaha di Jateng yang terdampak musibah penyebaran virus corona di China adalah pengusaha farmasi, tekstil dan importir bawang putih, khususnya yang masih mengandalkan bahan baku dari China.

Kendati penyebaran virus corona menyebabkan kerugian sebagian pengusaha di Jateng, namun dirinya menyebut dampaknya tidak terlalu banyak dan masih di kisaran lima persen.

"Secara umum memang pasti ada dampaknya, sekarang ini ada larangan pemerintah ke China, tidak tahu sampai kapan, tapi saya pikir tidak terlalu lama. Ya ini ada soal juga terkait bahan baku, di Jateng ada pabrik farmasi yang masih harus impor bahan baku dari China. Ada bawang putih, kain untuk industri tekstil dan pabrik baja juga, namun saya pikir, ini tidak terlalu banyak berdampak," ujarnya.

Frans Kongi meminta Pemerintah Indonesia bisa memberikan berbagai keringanan bagi pengusaha di Jateng setelah dibukanya kembali impor dari China.

Sementara itu, penghentian impor bawang putih dari China mengakibatkan harga komoditas itu di pasar-pasar tradisional mengalami kenaikan hingga mencapai 100 persen. Berdasarkan pantauan di Pasar Karangayu Semarang, harga bawang putih impor mengalami kenaikan menjadi Rp 60 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp 30 ribu per kg.

Seorang penjual bawang putih, Rohyati, mengatakan bahwa kenaikan harga tersebut karena tersendatnya pasokan akibat ada larangan impor dari China. "Akibat tingginya harga bawang dari China itu, dagangan saya menjadi kurang laku," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement