Ahad 24 Nov 2019 20:10 WIB

Transformasi Radikal IPC Menjadi Digital Port

Hingga kuartal ketiga 2019, laba bersih IPC mencapai Rp 2,21 triliun.

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Teguh Firmansyah
Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta.
Foto: Antara/Aprillio Akbar
Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu capaian yang dibanggakan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi terkait Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah membaiknya berbagai indikator pelabuhan di Indonesia, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok.

Dalam pemaparan lima tahun Kementerian Perhubungan (Kemenhub) periode 2019 di Jakarta, Sabtu (19/10), Budi mengatakan, sektor perhubungan laut menunjukkan progres menggembirakan.

Baca Juga

Dia mengatakan, untuk meningkatkan bidang logistik, Kemenhub akan menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub internasional. Hal tersebut dilihat dari arus bongkar muat (troughput) petikemas di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pada 2018 yang mencapai 7,5 juta TEUs. Budi menargetkan, capaian itu bisa terus bertambah menjadi 8 hingga 12 juta TEUs pada beberapa tahun mendatang. Sehingga, ke depan perdagangan ke luar negeri dari Indonesia dapat ditangani oleh Pelabuhan Tanjung Priok.

“Juga kita bahagia bahwa Tanjung Priok semakin hari semakin baik karena mencapai jumlah logistik yang lebih banyak,” ucap Budi yang kini menjadi Menhub dua periode.

Data yang disampikan Budi terkait pelabuhan paling sibuk di Indonesia tersebut yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) memang sesuai fakta. Berdasarkan data World Shipping Council tentang daftar 50 pelabuhan kelas dunia, peringkat Pelabuhan Tanjung Priok terus menunjukkan angka menggembirakan. Pada 2016, Tanjung Priok menduduki peringkat 27, posisi itu kembali naik satu peringkat pada 2017, dan pada 2018 sudah berada di urutan 22 pelabuhan terbaik dunia.

Budi menambahkan, salah satu pencapaian Pelabuhan Tanjung Priok tidak bisa dilepaskan dari waktu penimbunan petikemas atau biasa disebut dwelling time yang sudah menurun menjadi rata-rata 2,4 hari. Padahal, pada April l2019, dwelling time untuk barang ekspor-impor masih di atas tiga hari sehingga sering menimbulkan penumpukan. Menurut Budi, penurunan angka dwelling time diikuti oleh peningkatan volume kapasitas bongkar-muat barang.

Dia pun mendorong pelayanan arus bongkar muat dimaksimalkan pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Ahad (Minggu). Hal itu dilakukan sebagai salah satu peningkatan pelayanan agar arus bongkar muat tidak hanya menumpuk pada hari Kamis dan Jumat. Menurut Budi, kalau ada pelayanan tambahan maka petikemas tidak berkumpul dan antrean panjang truk kontainer juga bisa dikurangi.

"Selama ini barang-barang itu relatif tidak maksimal di Sabtu, Minggu. Kalau ada pelayanan maka ini bisa beroperasi tidak hanya satu kali sepekan, tapi bisa dua sampai tiga kali, kemacetan juga berkurang. Oleh karenanya saya minta ke tim untuk aktifkan Sabtu Minggu," kata Budi.

Republika mendapati, jumlah arus bongkar muat secara keseluruhan memang terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2016, arus bongkar muat mencapai 6,1 juta TEUs, setahun berselang menjadi 6,9 juta TEUs atau naik 13 persen, dan pada tahun lalu menyentuh angka 7,6 juta TEUs atau naik 14 persen. Hal itu juga dibarengi dengan kinerja positif di bidang pendapatan usaha.

Pada 2016, laba bersih perusahaan tercatat di angka Rp 1,53 triliun. Setahun berselang, laba bersih yang dibukukan IPC sebesar Rp 2,21 triliun atau melonjak 44,4 persen. Angka itu kembali meningkat 9,95 persen menjadi Rp 2,43 triliun pada 2018. Adapun hingga kuartal ketiga 2019, IPC menorehkan laba perusahaan sudah mencapai Rp 2,21 triliun atau naik 18,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu di angka Rp 1,83 triliun. "IPC optimistis laba bersih tahun ini bisa melampaui laba bersih perusahaan tahun 2018 yang sebesar Rp 2,43 trilun," kata Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya di Jakarta, belum lama ini.

Hanya saja ditinjau dari sisi operasional, Elvyn mengakui, lalu lintas arus peti kemas hingga kuarta ketiga tercatat sebesar 5,62 TEUs atau hanya naik sedikit dibandingkan periode yang sama pada 2018, di angka 5,58 juta TEUs. Pun dengan arus nonpeti kemas yang terealisasi 43,2 juta ton atau naik 1,14 persen dari periode sama tahun lalu sebanyak 42,7 juta ton. Sedangkan arus kapal yang keluar masuk pelabuhan malah menurun dua persen dari 158,3 juta GT menjadi 154,5 juta GT.

Dia tidak memungkiri, hal itu berkaitan dengan melemahnya arus ekspor dan impor nasional. Elvyn menjelaskan, IPC akan fokus mencermati peluang untuk memaksimalkan capaian sumber-sumber pendapatan maupun arus bongkar muat pada dua bulan terakhir 2019. “Tren kenaikan laba perusahaan harus dipertahankan,” ujarnya.

Meski begitu, IPC mencatat kenaikan drastis arus penumpang dari 505 ribu orang menjadi 905,5 ribu penumpang. Menurut Elvyn, sebagai implementasi trade facilitator, IPC tidak lagi berfokus sebagai operator pelabuhan, namun juga menghadirkan semua layanan laut dan darat luar jasa kepelabuhan. Dengan merombak bisnis pelabuhan, nantinya IPC tidak lagi menggantungkan pendapatan dari hanya layanan bongkar muat petikemas, melainkan juga layanan penyeberangan penumpang.

Selain itu, IPC terus mengembangkan ekosistem kepelabuhanan untuk memperkuat peran strategis sebagai trade facilitator. Di mana semua itu bermuara pada penurunan biaya logistik yang menjadi target pemerintah. "Arus penumpang yang tumbuh 81,11 persen menunjukkan moda transportasi laut kembali menjadi alternatif. IPC ke depannya akan melakukan modernisasi dan digitalisasi sarana dan prasarana di terminal penumpang," ucap Elvyn.

Digitalisasi pelabuhan

Sejak dipimpin Elvyn G Masyasya, IPC melakukan transformasi operasional yang sangat radikal dari yang sebelumnya manual ke digital. IPC melakukan digitalisasi di seluruh kegiatan pelabuhan secara koorporasi. Menurut Corporate Communication IPC Fajar Setyono, mebaiknya layanan dwelling time di IPC akibat dari digitalisasi sistem bongkar muat kapal.

Selain itu, IPC juga membuka pelayanan bongkar-muat 7x24 jam. Pelayanan nonstop, tersebut meningkatkan aktivitas bongkar-muat barang dari semula sekali sepekan menjadi dua hingga tiga kali sepekan. Penambahan waktu pelayanan tersebut juga berdampak mengurangi kemacetan di jalan tol sekitar Tanjung Priok imbas bongkar-muat barang.

Tak hanya oleh IPC, kantor Bea Cukai juga berkontribusi dalam menekan dwelling time. "Bea Cukai dibutuhkan dalam proses custom clearance adalah proses administrasi pengeluaran atau pengiriman barang dari dan ke pelabuhan logistik," kata Fajar seperti dikutip dari Indonesia.go.id.

Dia melanjutkan, penerapan digitalisasi berbagai sisi di pelabuhan menjadi fokus utama IPC dua tahun terakhir. Standardisasi pelayanan di sisi darat dan laut dioptimalkan secara menyeluruh mulai saat barang dikirimkan ke pelabuhan sampai kemudahan pembayaran serta tracking dan tracing barang. Fajar mengatakan, di sisi keuangan, IPC melakukan transformasi yang signifikan, yaitu seluruh transaksi di pelabuhan berbasis elektronik (cashless payment system). "Jadi tidak ada lagi pembayaran secara tunai dan pola yang IPC lakukan ini tentu berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan menjadi lebih cepat, lebih terdata, lebih transparan, dan lebih akurat."

Pencapaian lainnya, kata Fajar, pada 2018, IPC telah melayani direct call ke empat benua, yakni Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Dia menyebutkan, direct call telah berkontribusi dalam penghematan biaya logistik sebesar 40 persen dari transhipment melalui Singapura. Selain itu, layanan tersebut juga menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari. Karena itu, pihaknya menegaskan, IPC sebagai operator pelabuhan terbesar di Indonesia mempunyai visi untuk menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan.

Fajar menyatakan, perubahan radikal itu memberikan dampak yang signifikan, yaitu produktivitas dan revenue korporasi meningkat. Tahap berikutnya, sambung dia, IPC ingin menjalankan ekspansi global, yaitu ingin mengembangkan sayap dengan menjajaki potensi kerja sama agar anak perusahaan IPC bisa menjadi operator pelabuhan di negara lain, seperti Filipina, Vietnam, Bangladesh, dan sebagainya.

Berita Lainnya

Rekomendasi