Jumat 15 Nov 2019 16:50 WIB

Pelaku Pariwisata Halal Diminta tak Ketinggalan Teknologi

Teknologi mendorong usia muda dan perempuan terlibat dan jadi pelaku pariwisata

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Pengarah Tim Percepatan Wisata Halal, Riyanto Sofyan (kedua kanan)
Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Pengarah Tim Percepatan Wisata Halal, Riyanto Sofyan (kedua kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) dan CEO Sofyan Corp Riyanto Sofyan, mengatakan ekonomi syariah telah berkembang pesat dan menjadi salah satu potensi besar Indonesia yang menarik perhatian global.

Oleh karena itu, Riyanto menilai pemangku kepentingan pariwisata halal harus mampu menjawab tantangan perubahan teknologi, komunikasi, dan transformasi, yang telah banyak mengubah gaya hidup di dunia. Hal itu di mana perjalanan wisata kini banyak melibatkan kelompok usia muda dan kaum perempuan.

"Terwujudnya ekosistem pariwisata yang baik akan mendukung upaya menjual destinasi pariwisata dan dapat mempermudah berkembangnya pariwisata halal di Indonesia," tutur dia,  di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (15/11). 

Hal tersebut ia sampaikan dalam pelaksanaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019. PPHI berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) menghela Indonesia Halal Tourism Conference bertajuk "Masa Depan Wisata Halal yang Lebih Baik dan Berkelanjutan sebagai Rahmatan lil Alamiin".

Riyanto mengatakan Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa dalam hal penilaian rating index milik Global Muslim Travel Index 2019 dengan menduduki nomor satu dunia. "Semoga perhelatan ini bisa menjadi langkah bersejarah menuju Indonesia sebagai pusat dari ekonomi Islami global," ucap Riyanto. 

Riyanto menjelaskan pasar pariwisata halal telah membuka mata dunia akan sebuah potensi ekonomi yang sangat besar. "Dunia internasional telah menyadari potensi baru ini bahkan melampaui jumlah pemasukan dari turis umum seperti Cina," lanjut Riyanto.

Riyanto menyebut, dengan populasi yang besar hingga mencapai 1,8 miliar penduduk dunia, menjadikan potensi pasar muslim sejajar dengan potensi pasar di Cina. Meski begitu, lanjut Riyanto, wisata halal Indonesia memiliki beberapa pekerjaan rumah yang  harus diselesaikan, mulai dari pengembangan wisata halal berkelanjutan hingga beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Riyanto menilai, sebagai target pasar, pariwisata halal tidak lagi menjadi kebutuhan bagi kalangan terbatas saja. Riyanto memaparkan, tuntutan akan adanya konsep halal yang telah berkembang sangat pesat harus menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan wisata di Indonesia. Riyanto menyebut keberagaman budaya di Indonesia dengan kepulauan yang sangat indah akan selalu mejadi daya tarik bagi turis untuk berkunjung ke Indonesia.

Riyanto meyakini pertumbuhan fasilitas, perbaikan kualitas, dan dukungan dari sistem perbankan yang selaras pada sektor pariwisata halal akan mendorong daya tarik tujuan wisata dan memberikan tingkat kenyamanan lebih bagi turis muslim potensial yang hadir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement