Senin 30 Sep 2019 05:30 WIB

BI: Rupiah Terus Menguat di Tengah Pelambatan Ekonomi Global

BI menilai kurs rupiah masih mampu menghadapi situasi yang kurang kondusif

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah.    (ilustrasi)
Foto: Republika/ Yogi Ardhi
Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, KUTA -- Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar rupiah masih akan terus menguat di tengah perekonomian global yang mengalami perlambatan. Mata uang Garuda terlihat menguat sebesar 0,9 persen point to point (ptp) dan 1,0 persen secara rata-rata pada September 2019 dibanding Agustus 2019.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan rupiah tengah menguat 2,3 persen sejak awal 2019 hingga 18 September 2019. "Sejak awal tahun hingga 18 September kemarin, rupiah sudah menguat 2,3 persen (year to date/ytd)," ujarnya kepada wartawan di Kuta, Bali, akhir pekan kemarin.

Baca Juga

Menurutnya nilai tukar rupiah masih mampu menghadapi situasi yang kurang kondusif tersebut dan masih tetap menguat sepanjang 2019. "Kita masih cukup kuat di periode September dibanding Agustus. Perkembangan nilai tukar rupiah waktu tahun 2018 terpuruk sampai Rp 15.000 jadi saat ini ya masih cukup baik dan tetap kuat," jelasnya.

Onny menjelaskan penguatan rupiah ditopang beberapa hal antara lain mengalirnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Aliran ini sejalan dengan prospek perekonomian nasional yang baik dan daya tarik investasi aset keuangan domestik yang tinggi.

"Rupiah menguat walaupun naik turun. Kenapa? Karena kurs rupiah cukup kuat dibanding dengan negara-negara emerging market lainnya," papar dia.

Sementara Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menambahkan kepercayaan investor asing tetap besar pada Indonesia.  Sebab respons kebijakan ekonomi Indonesia selama ini dipandang cukup positif, dibandingkan dengan negara berkembang seperti Argentina atau Turki.

Di samping itu, pelonggaran kebijakan suku bunga Amerika Serikat membuat yield obligasi tenor 10 tahun (US Treasury) ikut turun hingga level 1,5 persen. Sedangkan yield obligasi negara Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di antara emerging markets.

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai 7,29 persen per 26 Agustus lalu. Sedangkan real yield sebesar 3,97 persen.

"Dengan asumsi FFR yang flat di tahun depan, maka potensi inflow ke Indonesia setidaknya masih akan sekuat tahun ini. Real yield kita masih sangat menarik dan secara fundamental, emerging market dengan pertumbuhan resilien dan rating baik adalah Indonesia,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement