REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Senin (9/9). IHSG menguat 19.332 ke level 6328.282 dari 6308.950. Valbury Sekuritas memprediksi IHSG dalam pekan ini akan bergerak mixed dengan peluang menguat.
"Sentimen akan ada pembicaraan perdagangan AS dan Cina serta cadangan devisa yang naik menjadi katalis positif bagi IHSG," ujar Kepala Riset Valbury, Alfiansyah, Senin (9/9).
Alfiansyah mengungkapkan sentimen dalam negeri dipengaruhi oleh kondisi cadangan devisa negara yang baik. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2019 sebesar 126,4 miliar dolar AS atau naik dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2019 sebesar 125,9 miliar dolar AS.
Peningkatan cadangan devisa pada Agustus 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya. Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Dengan angka tersebut posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bahkan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Artinya angka cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.
Sentimen dalam negeri lainnya yaitu postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2020 yang baru saja disetujui oleh Pemerintah dan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perubahan asumsi harga migas mengubah struktur anggaran tahun depan, khususnya komposisi pendapatan dan belanja negara.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) dikoreksi dari 65 dolar AS per barel menjadi 63 dolar AS per barel. Perubahan asumsi menyangkut indikator minyak, maka terjadi perubahan dari sisi postur pendapatan, terutama yang berasal dari pajak migas. Postur sementara RAPBN 2020 dari sisi target pendapatan naik Rp 11,6 triliun menjadi Rp 2.233,2 triliun dari usulan awal senilai Rp 2.221,5 triliun.
Sementara itu sentimen pasar dari luar negeri masih dipengaruhi kesepakatan dagang AS dan Cina. Cina dan AS sepakat untuk mengadakan pembciaraan perdagangan tingkat tinggi pada awal Oktober di Washington. Cina dan AS juga sepakat akan bekerjasama dan mengambil tindakan praktis untuk menciptakan kondisi yang baik untuk konsultasi.
Sebelum pertemuan tingkat tinggi kedua negara ini akan mengadakan pembicaraan pada pertengan September. Pelaku pasar berharap pertemuan nanti dapat mengurangi perang dagang AS dengan Cina sebelum menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada ekonomi global.
Selain itu, ekonomi Jerman pada kuartal II 2019, mengalami kontraksi akibat pelemahan ekspor. Jerman sedang menghadapi ancaman resesi karena perusahaan-perusahaan Jerman telah terperangkap dalam perang dagang AS-Cina.
Ekonomi Jerman sangat bergantung pada ekspor. Sejalan lemahnya permintaan asing dan ketidakpastian bisnis. ekonomi Jerman, kontrak untuk barang buatan di Juli turun 2,7 perse dibandingkan bulan sebelumnya mencapai 2,7 persen.