Senin 02 Sep 2019 14:00 WIB

Biaya Pendidikan Beri Kontribusi Terbesar Terhadap Inflasi

BPS mencatat pada bulan Agustus terjadi inflasi sebesar 0,12 persen

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Suasana proses belajar mengajar di kelas.  (Foto Ilustrasi)
Foto: Agung Supriyanto/Republika
Suasana proses belajar mengajar di kelas. (Foto Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga memberikan kontribusi tertinggi terhadap inflasi Agustus 2019. Nilai inflasinya adalah 1,21 persen dengan kontribusi 0,09 persen terhadap inflasi Agustus 2019 yang berada di tingkat 0,12 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, penyebab utama besarnya kontribusi inflasi sektor pendidikan, rekreasi dan olahraga adalah kenaikan uang sekolah di seluruh tingkat. "Mulai dari SD hingga SMA dan perguruan tinggi," tuturnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/9).

Baca Juga

Suhariyanto mengatakan, kenaikan uang sekolah SD berkontribusi terhadap inflasi 0,05 persen, sedangkan kenaikan uang SMP dan SMA masing-masing memberikan andil 0,02 persen. Terakhir, kenaikan uang kuliah atau di tingkat perguruan tinggi 0,01 persen.

Kenaikan itu terjadi seiring dengan pergantian tahun ajaran yang berlangsung selama periode Juli hingga Agustus. "Inflasi pendidikan memang naik pada dua bulan itu karena sudah jadi musiman," ucap Suhariyanto.

Kontributor terbesar kedua adalah sandang dengan tingkat inflasi 0,88 persen dan andil 0,06 persen. Satu-satunya komoditas yang dominan adalah kenaikan harga emas dan perhiasan, di mana kontribusinya mencapai 0,05 persen terhadap inflasi Agustus.

Suhariyanto mengatakan, kenaikan harga emas ini mengikuti tren di tingkat internasional. Penyebabnya, ketidakpastian ekonomi global yang menyebabkan masyarakat banyak beralih ke instrumen investasi yang lebih aman, yakni emas. "Kemungkinan, masih merambat naik di bulan-bulan mendatang," tuturnya.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar juga memberikan andil 0,06 persen terhadap inflasi Agustus dengan tingkat inflasi 0,23 persen. Ada dua komoditas yang memberikan andil cukup dominan, yakni kenaikan bahan kenaikan tarif sewa rumah dan kenaikan tarif air minum PAM.

Suhariyanto mengatakan, kenaikan tarif sewa rumah memberikan andil 0,02 persen. Penyebabnya, kenaikan berbagai bahan bangunan untuk pemeliharaan rumah seperti asbes, batu bata, semen dan upah tukang bangunan. "Sementara, kenaikan tarif air minum PAM yang berkontribusi 0,01 persen," katanya.

Kelompok bahan makanan jadi minuman rokok dan tembakau mencatat tingkat inflasi 0,26 persen pada Agustus 2019 dengan andil 0,05 persen. Komoditas dominannya adalah kenaikan harga rokok kretek dan rokok kretek filter yang memberikan kontribusi masing-masing 0,01 persen.

Sementara itu, kelompok kesehatan memiliki tingkat inflasi 0,59 persen dengan andil 0,02 persen terhadap inflasi Agustus 2019. Komoditas yang berikan andil cukup dominan adalah kenaikan tarif rumah sakit dengan kontribusi 0,01 persen.

Di sisi lain, ada dua sektor yang mencatatkan deflasi, yaitu bahan makanan dan transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang masing-masing deflasi 0,19 persen dan 0,55 persen. Keduanya berkontribusi 0,06 persen dan 0,10 persen terhadap deflasi Agustus.

Komoditas yang memberikan andil pada deflasi bahan makanan adalah penurunan harga bawang merah. Penurunan harganya di 79 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) membuat komoditas ini berkontribusi 0,08 terhadap deflasi. “Penyebabnya, panen raya di berbagai sentra produksi seperti Bima, Nganjuk, Pati dan Brebes,” ujar Suhariyanto.

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan adalah penurunan tarif angkutan udara. Andilnya 0,11 persen karena turun di 47 kota IHK. Sebut saja Kendari yang turun 22 persen, sementara Surakarta, Maumere dan Mataram turun 21 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement