Selasa 27 Aug 2019 06:06 WIB

BI Ungkap Lima Rumusan Jaga PE dan Stabilitas Moneter

Penanganan moneter di negara berkembang tak hanya mengandalkan suku bunga.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda
Ketua Kadin Rosan Roeslani bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menghadiri acara Kadin Talks di Menara Kadin, Jakarta, Senin (26/8).
Foto: Republika/Novita Intan
Ketua Kadin Rosan Roeslani bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menghadiri acara Kadin Talks di Menara Kadin, Jakarta, Senin (26/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia memiliki peran menjaga stabilitas kebijakan moneter dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah memperkenalkan rumusan lima ‘jamu’ untuk mendorong kedua kondisi tersebut, agar berjalan secara bersamaan.

Pertama suku bunga, kedua stabilitas nilai tukar. Ketiga, kebijakan makroprudensial, keempat mendorong pembiayaan dari perbankan dan pasar modal dan terakhir sistem pembayaran digital.

Baca Juga

“Tinggal mana yang mana yang mau diarahkan, untuk pahitnya stabilitas, dan manisnya pertumbuhan. Tapi jangan khawatir satu jamu pahit, yaitu suku bunga, dikasih jamu manis," ujarnya saat acara Kadin Talks di Menara Kadin, Jakarta, Senin (26/8).

Perry menyebut jika menggunakan ilmu bank sentral peran yang lama maka kedua kondisi tersebut secara beriringan tidak bisa diterapkan di negara berkembang, seperti Indonesia. Sebab di Indonesia, pergerakan suku bunga tidak bisa menjadi alat untuk menjaga stabilitas.

“Kalau bank sentral yang lama, stabil karena instrumen hanya satu suku bunga kalau suku bunga mengendalikan inflasi, nilai tukar, itu ilmu lama. Dalam buku saya di negara emerging market tidak bisa karena asumsi yang kita ajar menganggap mekanisme pasar berjalan semuanya, sehingga suku bunga dinaikan nanti nilai tukar bisa stabil? Belum tentu,” ucapnya.

Menurutnya ilmu mengenai suku bunga tidak cukup untuk diterapkan di negara berkembang, sehingga perlu diciptakan rumusan lain. Tentu, penanganannya pun berbeda dibanding negara-negara maju.

Perry menjelaskan mekanisme pasar yang berlaku kerap dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental seperti kinerja neraca perdagangan yang mengalami defisit, serta tingkat inflasi yang yang sangat bergantung pada harga bahan pangan bergejolak, bukan hanya inflasi inti. Salah satu komoditas bahan pangan bergejolak yang sangat dominan memengaruhi tingkat inflasi dalam negeri adalah harga cabai.

"Kalau bank sentral di negara maju, ya sudah asal harga-harga terkendali, inflasi rendah, nilai tukar stabil, seperti itu kan. Kalau di negara maju begitu dinaikan suku bunga semua selesai nih. Di negara berkembang tidak bisa, inflasi gara-gara cabai masa diobati dengan suku bunga, ora matuk toh. Nilai tukar karena neraca perdaganaanya defisit, masa kita intervensi terus, ya tidak kuat cadangan devisinya," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement