Kamis 22 Aug 2019 15:05 WIB

Mendag Bakal Buka Impor Jagung

Keran impor jagung dibuka untuk antisipasi kenaikan harga dan ketersediaan pasokan.

Rep: Imas Damayanti / Red: Friska Yolanda
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat diwawancarai wartawan, di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8).
Foto: Republika/Imas Damayanti
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat diwawancarai wartawan, di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal membuka impor jagung tahun ini. Rencana tersebut dilakukan guna mengantisipasi kenaikan harga dan sisi produksi jagung nasional yang menurun akibat kemarau.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan siap mengeluarkan surat perizinan impor (SPI) dalam waktu dekat. Kendati demikian pengeluaran tersebut tergantung bagaimana rekomendasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan).

Baca Juga

“Kita akan minta rekomendasi impor dari Kementan, bahwa akan terjadi kekeringan dan (mengganggu) produksi serta stok jagung,” kata Enggar saat ditemui Republika.co.id, Rabu (21/8).

Menurut Enggar, selama ini peternak lokal pun kerap mengeluhkan harga jagung pakan yang tinggi. Tingginya harga jagung pakan peternak itu juga menjadi kontribusi terbesar yang menyebabkan harga ayam nasional tinggi.

Enggar juga mengingatkan kepada kementerian teknis terkait untuk dapat mengintrospeksi kinerjanya. Sebab jika dibandingkan, kata dia, harga jagung nasional dengan jagung Brasil cukup berjarak. Menurutnya, harga jagung Brasil relatif lebih murah.

photo
Petani mengumpulkan jagung yang baru saja dipanennya di Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (14/8/2019). Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung nasional di tahun 2019 sebesar 33 juta ton atau naik dibandingkan sebelumnya yang hanya 30 juta ton dan saat ini telah berada pada posisi surplus produksi.

Embuh (harganya), intinya jagung Brasil murah. Padahal ada jarak kirim yang ditempuh selama tiga bulan, tapi masih lebih murah kenapa,” ujarnya.

Dia juga menambahkan, dengan terbatasnya pasokan serta tingginya harga jagung lokal, terdapat kecenderungan bagi produsen untuk mengalihkan pakan ternaknya dari bahan baku jagung ke gandum. Padahal menurut dia, harga gandum impor saat ini lebih mahal jika dibandingkan dengan jagung impor.

Enggar berpendapat, langkah impor merupakan kebijakan yang terpaksa dilakukan para produsen pakan ternak agar tidak terpengaruh tekanan tingginya harga bakan baku di kancah lokal. Sebab, apabila hal itu terjadi maka bukan tidak mungkin harga ayam juga ikut meningkat.

Menanggapi hal ini, Dewan Jagung Nasional (DSN) menolak rencana pemerintah tersebut. Sekretaris Jenderal DSN Maxdeyul Sola menilai, dibukanya keran impor bakal mematikan pendapatan petani lokal.

Sola juga membantah pernyataan sejumlah pihak termasuk Kemendag bahwa stok jagung nasional minim. Misalnya, kata dia, stok jagung dari seluruh pabrik secara nasional berada dalam kondisi stabil jika dibandingkan dengan kondisi dua tahun lalu.

“Sekarang stok di pabrik-pabrik besar saja secara menyeluruh lho ya, itu sudah 3 juta ton. Ini cukup sampai tiga bulan ke depan, karena kebutuhan kalau dirata-rata per bulan hanya 700 ribu ton,” ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis.

Dia juga menilai, kebijakan impor jagung saat ini kurang tepat sebab sejumlah pabrik jagung pun sudah mulai menutup pintu suplai. Meski begitu dia mengakui, produksi jagung nasional di musim kemarau mengalami penurunan jika dibandingkan pada musim hujan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement