Selasa 20 Aug 2019 14:05 WIB

Kementan-IPB Inisiasikan Asosiasi Berbasis Perkebunan

Kegiatan pertanian 4.0 meminimalisasi pemanfaatan air, pupuk, dan pestisida.

Red: EH Ismail
Konferensi perkebunan yang diselenggarakan Litbang Pertanian dan IPB
Foto: Humas Kementan
Konferensi perkebunan yang diselenggarakan Litbang Pertanian dan IPB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Badan Litbang Kementan dan Institut Pertanian Bogor menginisiasi asosiasi berbasis perkebunan melalui konferensi internasional di Kampus IPB Bogor. “Ini yang pertama kalinya di laksanakan international Conference. Selama ini secara international belum ada asosiasi yang berbasis perkebunan,” ucap Wakil Dekan Fakuktas Pertanian IPB yang juga Ketua Panitia, Dr. Ahmad Junaedi. 

Acara The 1st International Conference on Sustainable Plantation, 2019 dilaksanakan di IPB International Convention Center, 20 Agustus 2019.  Lebih lanjut disampaikannya Indonesia kaya akan komoditas perkebunan yang mendunia. Kita ingin mengangkat potensi keunggulan komoditas strategis yang ada di indonesia seperti, kelapa, kelapa sawit, kakao,teh, sagu, lada.

Konferensi ini juga membahas secara saintific isu negatif terkait lingkungan terhadap komoditas sawit. Penyelenggara mengundang Prof Dr Meine Van Noordwijk, chief Scientist of The World Agroforestry Center ( ICRAFT) narasumber terkait kelapa sawit, isu lingkungan juga terkait keamanan pangan. 

“Konferensi ini akan mengungkap secara saintifik, seperti apa permasalahan yang sebenarnya terjadi. Kita bangun jejaring secara ilmiahnya melalui konferensi ini. Kita mengundang narasumber kunci di berbagai komoditas perkebunan,” ujar Junaedi. 

Rektor IPB Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan pentingnya memahami perspektif pertanian dengan keberadaan teknologi 4.0. Di era sekarang ini, pertanian diharapkan dapat meningkatkan kegiatan dan manajemen. Kemudian harus dapat memecahkan masalah pada banyak aspek sosial dan ekonomi.

Kegiatan pertanian 4.0 meminimalisasi pemanfaatan air, pupuk, dan pestisida. Targetnya area yang lebih spesifik melalui bantuan teknologi canggih seperti mesin dan robot, berbagai sensor lingkungan yang ramah lingkungan dan pencitraan iklim, citra udara, teknologi informasi, dan GPS

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry menyampaikan, terkait peremajaan untuk pertanian basis perkebuanan melalui konferensi ini akan ada umpan balik,masukan masukan dari stakeholder dalam dan luar negeri kaitannya dengan peremajaan tanaman perkebunan, ucapnya. 

photo
Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry.

Indonesia punya potensi perkebunan cukup besar, kelapa sawit, yang paling dominan dan cukup besar, kakao, karet, sagu, tebu, kelapa, lada. Dengan konferensi ini diharapkan akan ada transfer teknokogi dan pengetahuan sehingga di harapkan akan ada saling kerjasama semua pihak kedepannya.

Terkait peremajaan tanaman perkebunan, Kementan juga memiliki program 500 juta tanaman tiap tahun selama 5 tahun dengan harapan melalui program tersebut tanaman tua bisa diremajakan dan Produkativitas tanaman akan meningkat misal untuk kakao diatas 3 ton, kopi 2 ton. Produktifitas jauh lebih baik dari saat ini, ucapnya. 

Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Suwardi, M.Agr menyampaikan melalui konferensi diharapkan ada solusi pengelolaan perkebunan yang baik produksi dilakukan namun lingkungan tetap terpelihara dengan baik. Dalan konferensi ini kita hadirka negara penghasil kelapa sawit dan juga negara pengimpor kelapa sawit seperti india, belanda, negara tersebut merupakan salah satu yang menolak, sehingga diskusi akan mengarah kepada satu solusi.

Selain itu hasil konferensi akan menjadi bahan untuk mengetahui bagaimana produktivitas sagu di jepang. Karena jepang terkenal akan sagu, juga teh. Serta teknologi seperti apa yang dimanfaatkan untuk budi daya keduanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement