Sabtu 17 Aug 2019 04:08 WIB

Meningkat 42%, Alibaba Bukukan Pendapatan Rp 239,4 Triliun

Penyumbang terbesar pendapatan Alibaba adalah lini bisnis e-commerce.

Rep: Redaksi WE Online(Warta Ekonomi)/ Red: Redaksi WE Online(Warta Ekonomi)
Meningkat 42%, Alibaba Bukukan Pendapatan Rp239,4 Triliun. (FOTO: Alibaba Cloud)
Meningkat 42%, Alibaba Bukukan Pendapatan Rp239,4 Triliun. (FOTO: Alibaba Cloud)

Perusahaan teknologi asal Tiongkok, Alibaba Group Holding Limited mencatatkan pendapatan 114,92 miliar reminbi atau 16,74 miliar dolar AS (sekitar Rp 237,7 triliun) per Juni 2019. Perolehan ini meningkat 42% dibanding periode sama tahun lalu (year on year/yoy).

Penyumbang terbesar pendapatan Alibaba adalah lini bisnis e-commerce, 99,5 miliar atau 14,5 miliar dolar AS. Kontributor terbanyak kedua yaitu komputasi awan (cloud computing), 1,1 miliar dolar AS. Lalu, dari media digital dan hiburan 920 juta dolar AS.

“Alibaba melewati kuartal yang sangat baik, memperluas basis pengguna kami menjadi 674 juta pengguna aktif tahunan, yang menunjukkan keunggulan pengalaman konsumen yang kami hadirkan,” kata Chief Executive Officer (CEO) Alibaba Group Daniel Zhang dalam keterangan tertulis yang diterima Warta Ekonomi di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Baca Juga: NetApp Gandeng Alibaba Cloud untuk Mudahkan Penerapan Hybrid Cloud

Menurutnya, pengguna aktif tahunan Alibaba memang mencapai 674 juta, atau meningkat 20 juta selama setahun terakhir. Pengguna aktif mobile bulanannya (Mobile Active User/MAU) juga mencapai 755 juta, atau naik 35 juta. Chief Financial Officer (CFO) Alibaba Group Maggie Wu mengaku senang karena interaksi mitra penjual dan konsumen meningkat.

“Kami akan terus berinvestasi pada pertumbuhan jangka panjang dan secara paralel melakukan efisiensi biaya di bidang investasi,” kata dia.

Executive Vice Chairman Alibaba Group Joe Tsai menambahkan, pendapatan dari sisi e-commerce yang naik 44% yoy ditopang oleh dua hal. Faktor itu adalah demografi dan pesatnya perkembangan digitalisasi di Tiongkok.

Di sisi demografi, nilai pasar konsumsi domestik Tiongkok mencapai 5,5 triliun dolar AS. Ada dua penyebabnya, yakni kada 300 juta orang kelas menengah di kota besar. Jumlahnya hamper menyamai populasi Amerika Serikat (AS). Kedua, tumbuhnya urbanisasi yang mempengaruhi kota lapis ketiga hingga kelima.

Baca Juga: Wow! 8 Perusahaan Ini Ada di Bawah Kendali Alibaba

“Sebanyak 70% di antaranya berasal dari kota lapis bawah. Alibaba memiliki posisi yang unik, dengan kapasitas menangkap kesempatan baik dari pertumbuhan kelas menengah di wilayah metropolitan dan urbanisasi di kota-kota kecil,” katanya. Dari sisi digitalisasi, ponsel pintar (smartphone) menjadi penopang selama satu dekade terakhir.

Gabungan ponsel dan internet menjadi memudahkan pengusaha mendapat umpan balik dari pengguna, termasuk Alibaba. Hal ini dijadikan evaluasi untuk meningkatkan layanan.

“Kami telah membangun beragam algoritma paling canggih untuk melayani para konsumen di platform. Hal ini menghasilkan pengalaman pengguna yang membaik dan meningkatkan peluang monetisasi,” kata dia.

Ia memperkirakan, digitalisasi ekonomi akan semakin berkembang dengan adanya jaringan internet generasi kelima (5G) dan Internet of Things (IoT). Secara keseluruhan, pendapatan dari operasional Alibaba mencapai 24,38 miliar renminbi atau 3,55 miliar dolar AS. Pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan naik 34% menjadi 39,24 miliar Renminbi atau 5,72 miliar dolar AS. Kemudian, pendapatan bersih dari kepemilikan saham biasa sebesar 21,25 miliar renminbi atau 3,1 miliar dolar AS. Lalu, pendapatan bersih 19,12 miliar renminbi atau 2,79 miliar dolar AS.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement