Kamis 01 Aug 2019 09:05 WIB

Indonesia Eximbank Bukukan Laba Rp 43,8 Miliar

Eximbank fokus mendorong pembiayaan ekspor daripada mengejar keuntungan.

Aktivitas ekspor impor (ilustrasi).
Foto: bea cukai
Aktivitas ekspor impor (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank pada periode hingga 30 Juni 2019 membukukan laba sebesar Rp 43,8 miliar. Laba perseroan menurun dibandingkan dengan Juni 2018 lalu yaitu Rp 403,34 miliar.

“Kita memang memiliki fokus dalam mendorong pembiayaan ekspor daripada mengejar keuntungan,” kata Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly saat ditemui di Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (31/7).

Ia mengaku saat ini pihaknya sedang melakukan berbagai perbaikan. Perbaikan itu seperti revitalisasi model bisnis, pemantapan pelaksanaan mandat, penguatan internal proses, serta perbaikan kualitas aset.

Ia melanjutkan, LPEI mencatat aset dengan total Rp 118,39 triliun untuk Semester 1 tahun 2019. Penyaluran dana untuk pembiayaan dan piutang tercatat sebesar Rp 105,03 triliun.

Pembiayaan ekspor itu diberikan untuk sekitar 1.300 pelaku ekspor dengan produk dan jasa yang disebar ke 160 negara. Hal itu secara tidak langsung juga membantu penyerapan tenaga kerja sebesar 2,42 persen.

“Otomatis kemiskinan juga tertekan sekiranya sekitar 0,717 persen karena angka penganggurannya menurun meskipun hanya sedikit,“ ujarnya.

Bahkan, ia menuturkan pihaknya menganggarkan 15,09 persen dari total dana pembiayaan atau sekitar Rp 15,89 triliun untuk membantu sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM dan Usaha Menengah Berorientasi Ekspor (UMBE). “Total dana untuk pembiayaan dan piutang kita Rp105,3 triliun, nah 15,09 persennya untuk UMKM karena kita ingin membantu pemerintah untuk meningkatkan daya saing pelaku ekspor khususnya pada UMKM,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan pemerintah yang telah menerbitkan PP Nomor 43 Tahun 2019 tentang Kebijakan Dasar Pembiayaan Ekspor Nasional (KD PEN) sehingga LPEI mempunyai tanggung jawab sebagai fasilitator dan agregator untuk kegiatan ekspor. 

Sinthya melanjutkan, pada semester 1 ini bisnis untuk penjaminan pada LPEI bernilai Rp 11,72 triliun dan asuransi mencapai Rp 8,46 triliun.

Berbagai dana pembiayaan tersebut dialirkan kepada beberapa sektor perekonomian, seperti 49,03 persen untuk perindustrian, pertanian sebesar 16,04 persen, pertambangan 9,96 persen, konstruksi 7,84 persen, pengangkutan 5,18 persen, dan sektor lainnya yang memiliki jatah 11,95 persen.

“Kita masih membutuhkan berbagai perbaikan agar bisa berperan lebih jauh ke depan bagaimana kita bisa membantu ekspor nasional,” katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement