Rabu 15 May 2019 08:40 WIB

Baru Merger, Bayer Dirugikan Rp 28,8 Triliun oleh Monsanto

Tahun lalu Bayer melakukan merger dengan Monsanto

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Logo grup usaha Bayer asal Jerman.
Foto: Bayer
Logo grup usaha Bayer asal Jerman.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA -- Produsen obat asal Jerman, Bayer AG, divonis pengadilan untuk membayar sebesar 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 28,8 triliun (kurs Rp 14.400 per dolar AS) kepada pasangan yang mengklaim bahwa produk dari anak perusahaannya, Monsanto, menyebabkan kanker terhadap mereka. Bayer membeli produsen pembunuh gulma Roundup, Monsanto, pada tahun lalu.

Vonis ganti rugi terkait Roundup bisa membawa Bayer berutang di Amerika Serikat, di mana perusahaan menghadapi tuntutan hukum dari sekitar 13.400 penggugat, seperti dilansir CNN, Rabu (15/5).

Baca Juga

Kasus tersebut baru-baru ini memicu protes besar pemegang saham terhadap manajemen raksasa obat-obatan dan bahan kimia ini. Investor punya alasan untuk marah, karena saham Bayer turun lebih dari 2 persen pada Selasa (14/5), dan telah turun lebih dari 45 persen pada tahun lalu.

Perusahaan telah berjanji untuk melakukan banding, meskipun jalan ke depan tampaknya sulit. Dikatakan dalam sebuah pernyataan Senin (13/5) bahwa pihak Bayer kecewa dengan keputusan juri dan akan mengajukan banding atas putusan tersebut.

Keputusan di pengadilan negara bagian Kalifornia pada Senin mengikuti dua putusan lainnya terhadap Bayer. Dua juri di Kalifornia sebelumnya memihak pria yang mengklaim bahwa glifosat, bahan utama dalam produk Roundup, menyebabkan perkembangan sel kanker pada konsumen.

Bayer juga mengajukan banding atas putusan-putusan itu, tetapi bisa saja tersangkut pembayaran puluhan juta dolar untuk menangani kasus-kasus itu. Dengan ribuan kasus lainnya yang masih berada di atas meja, ini menjadi tanda peringatan bagi kekalahan perusahaan, yang sudah menghadapi tekanan.

Bulan lalu, lebih dari 55 persen pemegang saham pemilih menolak untuk mendukung tindakan manajemen pada pertemuan tahunan perusahaan, sebuah teguran yang digambarkan oleh analis Berenberg, Sebastian Bray sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya" di Jerman.

Investor ingin tahu apakah manajemen melakukan pekerjaan rumah mereka di Monsanto sebelum melakukan merger 63 miliar dolar AS, yang ditutup pada 2018. Beberapa percaya sudah waktunya untuk mempertimbangkan perubahan struktural yang dramatis, seperti membagi bisnis farmasi dan pertanian Bayer.

Perusahaan mengatakan bahwa penelitian ilmiah membuktikan glifosat aman ketika digunakan sesuai petunjuk, dan tidak bersifat karsinogenik. Badan Perlindungan Lingkungan AS baru-baru ini mengatakan hal yang sama. Tetapi Bayer masih bisa memilih untuk menyelesaikan ribuan kasus yang tertunda, menurut analis.

Damien Conover, seorang analis yang meliput Bayer untuk Morningstar, memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, biaya bisa naik di atas 14,6 miliar dolar AS. "Sulit untuk menempatkan jumlah pasti pada kewajiban tanpa tahu lebih banyak tentang kualitas kasus. Denda 2 miliar kemungkinan akan diturunkan karena litigasi berlanjut," kata Conover.

Moody's mengatakan dalam sebuah laporan bulan lalu bahwa pembayaran penyelesaian sebesar 5,6 miliar dolar AS akan dapat dikelola untuk Bayer, tetapi total 22,4 miliar dolar AS dapat memengaruhi peringkat kredit perusahaan.

Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi