Sabtu 23 Mar 2019 17:05 WIB

Wisata Halal Indonesia Masih Tertinggal, Ini Sebabnya

Kelemahan Indonesia dalam wisata halal adalah minimnya riset untuk tentukan kebijakan

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar (kedua kanan), Head Of Syariah Economics And Finace Departement Bank Indonesia Anwar Bashori (kanan), Vice Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Jetti Rosila Hadi (kiri) dan Founder El Corps Elidawati (kedua kiri) memberikan keterangan saat pres conference The 2nd Indonesia Internasional Halal Lifestyle Expo & Conferance (INHALEC) di Jakarta, Selasa (10/10).
Foto: Republika/Prayogi
Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar (kedua kanan), Head Of Syariah Economics And Finace Departement Bank Indonesia Anwar Bashori (kanan), Vice Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Jetti Rosila Hadi (kiri) dan Founder El Corps Elidawati (kedua kiri) memberikan keterangan saat pres conference The 2nd Indonesia Internasional Halal Lifestyle Expo & Conferance (INHALEC) di Jakarta, Selasa (10/10).

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Wakil Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (Inhalec), Jetti Rosila Hadi menyebut, industri wisata halal di Indonesia belum mengalami kemajuan yang terlihat. Hal itu dikarenakan belum adanya pemetaan dan strategi konkret dalam mengembangkan dan mempromosikan destinasi wisata halal di Indonesia.

“Kita selalu melihat potensi wisata, tapi cara kita menangani, menggali potensi, dan mempromosikan barangkali belum optimal,” kata Jetti saat ditemui di STEI SEBI, Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/3).

Baca Juga

Jetti mengatakan, salah satu kelemahan Indonesia adalah minimnya riset secara komprehensif untuk menentukan arah kebijakan. Hal itu akhirnya membuat masing-masing pelaku usaha wisata halal jalan sendiri tanpa adanya kesamaan strategi.

Itu sebabnya, Jetti menilai tidak heran jika industri wisata halal menjadi sektor yang belum menghasilkan dampak ekonomi yang besar untuk Indonesia. "Wisata halal ini menyangkut jasa. Ini tidak bisa jalan sendiri-sendiri, harus bersama-sama dan dilakukan oleh lintas lembaga," kata Jetti.

Ia mencontohkan, salah satu yang mudah untuk dibenahi dalam waktu dekat yakni terkait bandara. Menurut Jetti, bandara memiliki fungsi strategis sebagai pintu masuk wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal ke destinasi wisata tujuan. Karena itu, suatu bandara juga harus menjadi media promosi wisata halal untuk lebih mengoptimalkan promosi wisata.  

Selain soal bandara, keberadaan transportasi umum di suatu kawasan harus dibenahi. Tanpa adanya transportasi yang memadai, Jetti menilai, sulit bagi pengelola untuk menarik kunjungan wisatawan. "Ini memang harus komprehensif dan kolaborasi. Kuncinya itu," kata dia.

Mengutip Peta Jalan Ekonomi Halal Indonesia yang dirilis oleh Inhalec bersama lembaga riset kenamaan AS, DinarStandard, wisata halal menjadi satu dari enam sektor industri halal yang harus diprioritaskan.

Pada tahun 2017, penduduk Indonesia menghabiskan dana hingga 10 miliar dolar AS untuk berwisata. Di level dunia, turis asal Indonesia merupakan menduduki peringkat kelima terbesar yang sering melakukan perjalanan wisata.

Pada tahun 2025 mendatang, Inhalec memprediksi nilai ekonomi yang dihasilkan dari industri wisata halal bisa mencapai 18 miliar dolar AS atau naik 7,7 persen dari posisi 2017.  "Kita perlu duduk bersama-sama untuk membenahi wisata halal Indonesia," ujarnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement