Jumat 22 Mar 2019 14:34 WIB

Garuda: Penumpang tidak Lagi Percayai Boeing 737 MAX

Garuda membatalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 MAX-8.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
Boeing 737 MAX 8 (Ilustrasi)
Foto: VOA
Boeing 737 MAX 8 (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maskpai Garuda Indonesia akan membatalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 MAX 8 setelah dua kecelakaan fatal. Pembatalan tersebut diyakini sebagai pembatalan formal pertama model pesawat yang bermasalah itu.

"Kami telah mengirim surat kepada Boeing yang meminta agar pesanan dibatalkan," kata juru bicara Garuda Ikhsan Rosan, dilansir di Aljazirah, Jumat (22/3).

Baca Juga

"Alasannya adalah bahwa penumpang Garuda di Indonesia telah kehilangan kepercayaan dan tidak lagi memiliki kepercayaan diri pada pesawat (tipe MAX)," katanya. Dia menambahkan bahwa maskapai sedang menunggu tanggapan dari Boeing.

Pejabat Boeing akan mengunjungi Indonesia minggu depan untuk membahas rencana Garuda untuk membatalkan pesanan. Garuda telah menerima salah satu pesawat yang merupakan bagian dari pesanan 50 pesawat senilai 4,9 miliar dolar AS dengan harga jual ketika diumumkan pada 2014. Maskapai itu juga berbicara dengan Boeing tentang apakah dapat mengembalikan pesawat yang telah diterima Garuda.

Garuda sejauh ini membayar Boeing sekitar 26 juta dolar AS, sementara kepala perusahaan mengatakan akan mempertimbangkan untuk beralih ke versi baru dari jet satu lorong tersebut.

"Pada prinsipnya, ini bukan karena kami ingin mengganti Boeing, tapi mungkin kami akan mengganti (pesawat-pesawat ini) dengan model lain," kata direktur Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.

Shukor Yusof, kepala konsultan penerbangan yang berbasis di Malaysia, Endau Analytics, mengatakan pengumuman Garuda tampaknya menandai rencana formal pertama oleh perusahaan penerbangan untuk membatalkan pemesanan 737 MAX 8.

"Ini mungkin bukan yang terakhir. Ada risiko bahwa saingan Garuda, Lion Air, yang juga memiliki banyak pesanan 737 MAX 8, mungkin membuat keputusan yang sama," katanya.

"Itu risikonya. Ini sudah diumumkan ke publik oleh CEO Lion Air. Dia menyatakan secara terbuka bahwa dia sedang mempertimbangkan pembatalan," ujarnya.

Dia menambahkan sulit untuk memprediksi apakah lebih banyak operator utama yang akan mengikuti. "Ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan setiap maskapai memiliki kebutuhan khusus. Setiap maskapai perlu mempertimbangkan bagaimana mereka ingin menyusun strategi manajemen armada mereka," kata Yusof.

Bulan ini, Lion Air mengatakan, pihaknya menunda pengiriman empat pesawat setelah perusahaan penerbangan Ethiopia Boeing 737 MAX 8 jatuh beberapa menit dalam penerbangan ke Nairobi, menewaskan semua 157 orang di dalamnya. Lion mengatakan pesawat telah dipesan untuk pengiriman tahun ini, tetapi perusahaan sedang mengevaluasi kembali kebijakannya.

Lion Air mengoperasikan 10 jet Max 8, bagian dari pesanan Boeing dengan rekor 22 miliar dolar AS yang dibuat pada 2011. Maskapai penerbangan ini adalah satu-satunya yang menggunakan Max 8 di Indonesia. Tragedi Ethiopia terjadi setelah jet Lion Air dengan model yang sama jatuh di Indonesia pada Oktober, menewaskan 189 orang di dalamnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement