Kamis 07 Feb 2019 11:22 WIB

Penjualan Oleh-Oleh di Padang Anjlok 40 Persen

Berdasarkan survei Dinas Pariwisata Padang, alasannya karena aturan bagasi berbayar.

Balado Kentang Lidah Sapi.
Foto: Republika/Rima Wulandari.
Balado Kentang Lidah Sapi.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Berdasarkan survei yang dilakukan Dinas Pariwisata Kota Padang, Sumatra Barat, penerapan kebijakan bagasi berbayar menyebabkan penjualan oleh-oleh berupa makanan dan lainnya anjlok 40 persen. "Wisatawan harus membayar lebih mahal, akhirnya wisatawan lebih selektif atau mengurangi beli oleh-oleh," kata Kepala Dinas Pariwisata Padang Medi Iswandi di Padang, Kamis (7/2).

Menurutnya, dibandingkan periode yang sama dengan 2018, terjadi penurunan 10 sampai 30 persen penjualan oleh-oleh di Padang. Tidak hanya berdampak bagi penjualan oleh-oleh, kenaikan harga tiket pesawat juga mempengaruhi tingkat hunian hotel di Padang.

Baca Juga

"Rata-rata hotel huniannya juga turun hingga 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata dia.

Bahkan, dengan kondisi ini membuat hotel bintang empat dan bintang tiga  menurunkan harga setara bintang dua sehingga akhirnya hotel bintang kehilangan tamu. Ia menyampaikan jasa pengiriman juga berdampak karena maskapai juga menaikkan tarif.

Salah satu pusat penjualan oleh-oleh di Lubuk Buaya Padang terpantau lebih sepi dari biasanya. Menurut salah seorang kasir, Vera, terjadi penurunan omzet hingga 30 persen per hari.

"Jika sehari biasanya penjualan hingga Rp 10 juta sekarang hanya berkisar Rp 7 juta sejak diterapkan kebijakan bagasi berbayar," kata dia.

Salah seorang warga Padang Abdul yang secara rutin berkunjung ke Jakarta menggunakan maskapai udara mengaku selektif membawa barang karena kebijakan bagasi berbayar. "Biasanya selain membawa koper juga oleh-oleh satu kardus, sekarang untuk sementara oleh-oleh ditiadakan dulu karena biayanya lebih mahal dari harga belinya," kata dia.

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno kembali menyurati sejumlah maskapai terkait kebijakan bagasi berbayar yang dinilai bisa mematikan UMKM di daerah. "UMKM yang berjualan oleh-oleh sangat bergantung pada wisatawan yang datang. Kebijakan itu dikhawatirkan membuat wisatawan enggan belanja hingga UMKM mati," katanya .

Ia menyampaikan salah satu keunggulan pariwisata dibandingkan sektor lain adalah geliat ekonomi yang langsung dirasakan oleh masyarakat, salah satunya UMKM. Ia mengatakan makin banyak kunjungan wisatawan makin banyak perputaran uang yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement