Jumat 14 Dec 2018 05:30 WIB

Konsumsi Muslim Indonesia di Industri Halal Rp 3.179 Triliun

Populasi muslim Indonesia mencapai 234 juta jiwa atau 13 persen dari muslim dunia

Produk halal (ilustrasi).
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Produk halal (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsumsi umat muslim di Indonesia mencapai 218,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.179 triliun (kurs Rp 14.530 per dolar AS) di industri halal, berdasarkan data hingga akhir 2017. Angka ini hanya 10,4 persennya dibandingkan konsumsi umat muslim secara global yang mencapai 2,1 triliun dolar AS di 2017.

Data tersebut berdasarkan laporan terbaru The State of Global Islamic Economy Report yang dikutip Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo dalam diskusi di rangkaian Festival Ekonomi Syariah Indonesia (ISEF) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/12).

Adapun populasi umat muslim di dunia tahun lalu mencapai 1,8 miliar jiwa. Sementara umat muslim Indonesia mencapai 13 persennya atau sekitar 234 juta jiwa.

"Berdasarkan laporan Global Islamic Economy 2018/2019, sekitar 218,8 miliar dolar AS dihabiskan oleh umat muslim di Indonesia di industri halal selama 2017," ujar Dody dalam diskusi bertajuk "Memperkuat Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Membuat Kreasi Rantai Nilai Halal dan Sarana yang Inovatif".

Dody mengatakan konsumsi umat muslim di Indonesia terbanyak di sektor makanan dan minuman halal yang mencapai 170 miliar dolar AS. Namun sayangnya, Indonesia belum mampu menjadi negara produsen makanan dan minuman halal terbesar di dunia.

Untuk itu, Dody berharap industri halal di Indonesia bisa semakin berkembang. Bank Sentral sendiri telah memiliki tiga pilar agar industri halal bisa terus berkembang.

Ketiga pilar tersbeut pemeberdayaan ekonomi berbasis syariah, pengembangan sektor keuangan syariah, hingga edukasi dan kampanye mengenai ekonomi keuangan syariah.

"Sulit kalau kembangkan instrumen syariah saja tapi enggak memberdayakan ekonominya. Untuk itu, komitmen kami membentuk rantai nilai halal, komoditas yang kami kembangkan itu makanan halal, fesyen syariah dan sebagainya," katanya.

Pada diskusi yang sama, Staf Ahli Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Amalia Adininggar mengatakan industri halal Indonesia baru menyumbang ekspor 10,7 persen ke pasar produk halal negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OIC).

Indonesia kalah dari pangsa ekspor produk halal Malaysia yang sebesar 13,8 persen, Uni Ermirat Arab yang sebesar 13,6 persen dan Arab Saudi yang sebesar 12 persen.

Pangsa ekspor produk halal, kata Amlia, semestinya bisa lebih tinggi. Maka dari itu, ujar dia, Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang beranggotakan instansi pemerintah, Bank Indonsia, Otoritas Jasa Keuangan ingin meningkatkan penetrasi ekspor produk halal ke rantai nilai halal pasar global.

"Potensi pertumbuhan untuk setiap tahun masih kita hitung. Produknya yang paling banyak, seperti makanan," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement