Senin 05 Nov 2018 12:32 WIB

Kementan: Pertanian Moderen Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Pertanian moderen dengan alsitan signifikan tingkatkan produktivitas petani

Red: EH Ismail
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, I Ketut Kariyasa
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, I Ketut Kariyasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Pertanian (Pusdatin Kementan), I Ketut Kariyasa mengatakan, kebijakan dan program pembangunan pertanian terbukti meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini  sejalan dengan visi  yang diusung oleh pemerintahan Jokowi-JK, tujuan akhir dari pembangunan pertanian harus mampu mensejahterakan dan memuliakan petani.

“Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman mengembangkan pertanian modern untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan,” kata Ketut di  sela Rapat Koordinasi Perberasan Nasional di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Senin (5/11).

Menurut Ketut, untuk mendukung  program ini, Kementan sejak 2015 telah memberikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dalam jumlah yang besar dalam sejarah Indonesia.  Pada 2016 dan 2017, jumlah bantuan tersebut terus dilakukan masing-masing sebanyak 110.487 unit dan 326.266 unit. Untuk tahun ini, pemerintah tetap memberikan bantuan alsintan, begitu juga tahun depan.

“Pengembangan pertanian modern melalui penggunaan alsitan dari aspek ekonomi secara signifikan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan keluarga petani, karena mampu menghemat biaya pengolahan tanah, tanam, penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien,” jelasnya.

Ketut menambahkan, pengunaan alsintan juga mampu meningkatkan produktivitas lahan melalui pengurangan kehilangan hasil. Adanya penghematan biaya produksi dan perbaikan produktivitas ini menyebabkan pendapatan keluarga petani meningkat secara tajam.

“Misalnya, penggunaan traktor roda-dua dan roda-empat, mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi tiga orang per hektare dan biaya pengolahan lahan turun sekitar 28 persen,” ujarnya.

Selain itu, Ketut mengatakan, penggunaan rice transplanter pun mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang per hektare menjadi tujuh orang per hektare sehingga dapat menurunkan biaya tanam hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha. Penggunaan combined harvester juga mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%, menekan kehilangan hasil dari 10,2% menjadi 2%, serta  menghemat waktu panen menjadi 4 sampai 6 jam/ha.

“Dari sisi ekonomi, mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani mencapai 80 persen, dari Rp 10,2 juta per hektare per musim menjadi Rp 18,6 juta per hektare per musim,” kata dia.

Ketut menegaskan, selain menambah manfaat ekonomi, pengembangan pertanian moderen juga mendorong generasi muda dan keluarga petani tertarik dan merasa bangga serta mulia menjadi seorang petani. Pertanian moderen mampu mengubah pandangan masyarakat jika menjadi petani itu tidak lagi merupakan keluarga miskin, bekerja penuh lumpur dan terpaan sinar matahari serta lebih banyak mengandalkan kerja otot sehingga sangat meletihkan.

“Petani moderen adalah petani yang professional, yang menggunakan alsintan dan inovasi teknologi pertanian terkini secara massif, tidak lagi mengandalkan otot dan meletihkan,” paparnya.

Menurut Ketut, petani moderen pendapatan yang diperolehnya tidak kalah menarik dan bahkan lebih besar dari upah atau gaji  dari seseorang yang bekerja pada sektor non pertanian. Tidak lagi banyak bersentuhan langsung dengan lumpur dan terpaan sinar matahari. “Pada kondisi seperti ini, tanpa perlu dipaksa, petani  dengan sendirinya akan terus bersemangat untuk berproduksi,” pungkas Ketut.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement