Kamis 25 Oct 2018 18:33 WIB

Indonesia Persiapkan Diri Menuju World Expo 2020 di Dubai

Ini jadi langkah penting Indonesia menunjukkan peran dan potensinya di pasar global.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Gita Amanda
Pengunjung mengamati sejumlah maket produk dari sejumlah perusahaan BUMN yang dipajang di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).
Foto: Antara/Zabur Karuru
Pengunjung mengamati sejumlah maket produk dari sejumlah perusahaan BUMN yang dipajang di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Indonesia mempersiapkan diri menuju ajang Expo World di Dubai pada 2020. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Arlinda menuturkan, partisipasi ini menjadi langkah penting bagi Indonesia untuk menunjukkan peran dan potensinya di pasar global. Khususnya, sebagai bagian dari perjalanan Indonesia Emas 2045.

Arlinda mengatakan, pameran yang berlangsung dari Oktober 2020 hingga April 2021 ini akan menjadi wadah emas bagi Indonesia untuk promosi. Baik itu untuk berinvestasi, berbisnis maupun berwisata ke Indonesia, kepada pengunjung expo yang datang dari berbagai negara di dunia.

"Target kami bukan berupa angka, melainkan branding yang semakin baik di mata internasional," ujarnya dalam konferensi pers di Tangerang, Kamis (25/10).

Pavilion Indonesia direncanakan mengambil luas lahan sebesar 1.860 meter persegi  di Dubai Trade Center Jebel Ali. Indonesia akan mengangkat sub tema Oppowrtunity yang merupakan satu dari tiga sub tema, Sustainability, Opportunity dan Mobility. Dengan sub tema ini, diharapkan Indonesia memiliki kesempatan besar untuk semakin berjaya di pasar global.

Arlinda menuturkan, pendanaan pembangunan dan penyelenggaraan Pavilion Indonesia selama Expo 2020 Dubai senilai Rp 400 miliar akan didukung oleh sektor swasta melalui skema kerja sama Pemerintah dan swasta atau Public Private Partnership. "Kami membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk berpartisipasi dalam Pavilion Indonesia melalui berbagai paket kerjasama sponsor yang menguntungkan kedua belah pihak," ucapnya. 

Dari kebutuhan Rp 400 miliar, baru Rp 50 miliar yang sudah tercover oleh pihak swasta, yakni PT Astra International. Produsen di bidang otomotif ini bertindak sebagai core sponsor. Menurut Arlinda, kini pemerintah tengah menyeleksi berbagai kerja sama inovatif kelas dunia antara Perusahaan, Pemerintah dan Masyarakat, dengan model kemitraan Public Private Partnership melalui program Road to Dubai.

Arlinda menargetkan, proses desain untuk Pavilion Indonesia sudah berjalan mulai Januari 2019 agar bisa dimulai pembangunannya pada April 2019. Untuk persiapan dan pelaksanaan program Road to Dubai hingga kehadiran Pavilion Indonesia di Expo 2020 Dubai, Kementerian Perdagangan telah menunjuk Samudra Dyan Praga sebagai pihak penyelenggara.

Presiden Direktur Samudra Dyan Praga, Hariman Zagloel menyatakan, program Road to Dubai akan melalui proses seleksi, kurasi dan inkubasi yang dilakukan oleh tim khusus. Anggotanya terdiri dari para pakar di berbagai bidang, akademisi, organisasi kemasyarakatan, perwakilan sponsor, dan pemerintah. Tujuannya, untuk memilih program-program inovatif kelas dunia yang layak ditampilkan di Pavilion Indonesia.

Hariman mengatakan, sulit untuk mengukur intangible effect dari partisipasi di World Expo ini. Tapi, berkaca dari negara-negara lain, partisipasi World Expo berdampak terhadap negara yang memang serius mengikuti. "Penelitian ilmiah dari Belanda pernah menghitung, dampak Belanda setelah ikut Hannover Expo adalah 10 kali lipat. Spending mereka 35 juta euro dan dampaknya 10 kali lipat setahun kemudian," ucapnya.

Dampak lain juga dirasakan oleh Jepang dan Korea. Hariman menjelaskan, Jepang yang mulai aktif ikut expo pada akhir 1960an mulai dipandang sebagai negara prestise. Begitupun dengan Korea yang serius pada tahun 1980an.

Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi