Selasa 18 Sep 2018 12:44 WIB

Pupuk Indonesia Targetkan Ekspor Rp 8,31 Triliun

Selain mendorong ekspor ke pasar internasional, PI tetap fokus kebutuhan nasional.

Rep: Firkah Fansuri/ Red: Agus Yulianto
Caption foto dari kiri Dirut Pupuk Indonesia Grup Aas Asikin Idat, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut Pupuk Kaltim  Bakir Pasaman saat melepas ekspor pupuk di Bontang, Kaltim, Selasa (18/9).
Foto: Firkah Fansuri/Republika
Caption foto dari kiri Dirut Pupuk Indonesia Grup Aas Asikin Idat, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut Pupuk Kaltim Bakir Pasaman saat melepas ekspor pupuk di Bontang, Kaltim, Selasa (18/9).

REPUBLIKA.CO.ID,BONTANG -- Pupuk Indonesia Grup terus berkomitmen mendorong ekspor pupuk. Langkah ini sebagai upaya  memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pupuk Indonesia memproyeksikan dapat mengekspor pupuk urea, amoniak dan NPK hingga akhir 2018 dengan nilai Rp 8,31 triliun.

“Pupuk Indonesia Grup merupakan satu dari sejumlah BUMN yang selalu mendorong pertumbuhan ekonomi Nasional melalui ekspor produk yang kualitasnya telah diakui. Ekspor ini pun dilakukan setelah memastikan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno sata melepas  ekspor di Kapal Phuong Dong yang memuat 20 ribu ton urea menuju Filipina di pelabuhan PT Pupuk Kalimantan Timur, Selasa (18/9). Hadir mendampingi Rini, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat, Dirut Pupuk Katim Bakir Pasaman dan sejumlah deputi meneg BUMN. 

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat menambahkan, bahwa pihaknya berkomitmen menjaga penjualan ekspor sebagai upaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyumbang devisa negara dan kembali memperkuat nilai rupiah. “Hal ini juga merupakan kebanggaan bahwa produk pupuk kami berdaya saing tinggi dan dapat diterima di pasar Internasional” ujar Aas.

Aas pun menegaskan, penjualan ekspor tersebut dilakukan setelah mendapatkan izin ekspor dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk sektor subsidi dalam negeri dan stok minimal sesuai ketentuan yang diatur Permendag No 15 tahun 2015. Sepanjang Januari – Agustus 2018, Pupuk Indonesia telah mencatatkan penjualan ekspor sebesar 1.081.435 ton yang terdiri dari 6.162.294 ton Urea, 371.841 ton Amoniak dan 93.290 ton NPK atau dengan total senilai Rp 4,66 trilliun.

Sebagai produsen pupuk terbesar di Asia Tenggara, Pupuk Indonesia menguasai pasar pupuk Negara-Negara di Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, Myanmar, Malaysia, Timor Timor dan Singapore dengan total ekspor sebesar 507.694 ton Urea, 126.170 ton Amoniak, dan 21.301 ton NPK atau senilai Rp 2,67 Triliun. Selain Asia Tenggara, wilayah Asia Timur seperti Cina, Jepang dan Korea Selatan masih menjadi tujuan ekspor tertinggi untuk produk-produk tersebut. 

Tidak hanya wilayah Asia, namun produk Pupuk Indonesia pun telah masuk ke pasar Jordan, USA, Afrika Selatan, Chile, Puerto Rico, dan Peru. “Ke depannya, untuk lebih meningkatkan ekspor, Pupuk Indonesia akan memperkuat jaringan ekspor di negara-negara tujuan melalui berbagai kegiatan promosi tingkat internasional dan juga ikut serta dalam kegiatan misi dagang,” tambah Aas.

Selain mendorong ekspor ke pasar internasional, Pupuk Indonesia tetap fokus untuk memenuhi kebutuhan stok pupuk Nasional dengan menyediakan stok pupuk dengan jumlah dua kali melebihi ketentuan stok yang ditetapkan oleh Pemerintah sehingga cukup untuk musim tanam Oktober-Maret mendatang. Total stok pupuk hingga 12 September 2018 secara Nasional di Lini III & IV atau di Gudang Kabupaten dan Kios sebesar 1.475.323 ton. Adapun rincian stok Nasional di Lini III & IV ini terdiri dari 519.804 ton Urea, 466.608 ton NPK, 136.580 ton Organik, 182.264 ton SP-36 dan 170.067 ton ZA.

“Dalam menghadapi musim tanam Oktober-Maret mendatang kami sudah menyiapkan stok pupuk di gudang lini II dan III yang jumlahnya melebihi ketentuan pemerintah sehingga aman untuk musim tanam, kami juga mempercepat proses pengiriman dari gudang-gudang ke distributor dan kios sehingga distributor dan pemilik kios dapat segera menebus pupuk sesuai dengan alokasinya sehingga pupuk tidak terlambat diterima oleh petani,” kata Aas. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement