Jumat 14 Sep 2018 18:12 WIB

Bank Indonesia Geser Rapat Dewan Gubernur

Jadwal rapat dewan gubernur BI digeser untuk menanti kepastian kebijakan The Fed.

Red: Nur Aini
 Warga melintas didekat logo Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Foto: Republika/ Wihdan
Warga melintas didekat logo Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia menjadwalkan rapat penentuan kebijakan dengan seluruh dewan gubernur pada pekan keempat September 2018. Hal itu berbeda dari biasanya pada pekan kedua atau ketiga seperti pertemuan bulanan rutin sebelumnya.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, memang penjadwalan RDG pada bulan ini pada pekan keempat khusus untuk menanti kepastian dari kebijakan The Fed (bank sentral AS). Pada akhir September memang akan menjadi momentum ketika seluruh investor global menancapkan perhatian pada rapat komite pasar terbuka Bank Sentral AS (FOMC).

Tepatnya pada 25-26 September 2018, Bank Sentral AS The Federal Reserve diperkirakan pelaku pasar global akan menaikkan suku bunga acuannya yang ketiga kali tahun ini.

"Kami hanya tunggu pengumuman dari The Fed. Harapannya RDG kami taruh pada pekan keempat September, kami sudah tahu posisi suku bunga Federal Reserve," ujar Dody dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (14/9).

BI menjadwalkan RDG pada 26-27 September 2018. Bank Sentral sebelumnya mengkalkulasi bahwa The Fed pada September memang akan menaikkan suku bunga acuannya, dari level 1,75-2 persen saat ini. Kenaikan suku bunga The Fed di September akan menjadi ketiga kali, dari total perkiraan empat kali tahun ini.

Langkah penaikkan suku bunga The Fed merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter AS dan juga langkah untuk mengimbangi laju pertumbuhan ekonomi AS yang kencang. Bankir Bank Sentral AS tidak ingin pertumbuhan yang terlalu kencang karena dikhawatirkan melebhihi jangkar sasaran inflasi. Namun kenaikan suku bunga The Fed akan memancing suku bunga instrumen keuangan di AS semakin menarik. Alhasil potensi pelarian arus modal dari negara berkembang ke negara Paman Sam akan semakin besar.

Menjelang RDG September ini, BI masih menerapkan arah kebijakan moneter yang sama dibanding sebelumnya yakni mempertimbangkan kenaikan suku bunga dengan melihat perkembangan ekonomi terbaru dari domestik dan global.

Sejak awal tahun hingga September 2018, total BI sudah empat kali menaikkan suku bunga acuan 1,25 persen menjadi 5,5 persen. Penaikan kebijakan suku bunga itu untuk mengantisipasi tekanan ekonomi global yang bisa melarikan modal asing di pasar keuangan Indonesia.

Tekanan ekonom global yang menjatuhkan nilai tukar rupiah juga telah menjadi salah satu penyebab BI menggunakan cadangan devisa sebesar 12,3 miliar dolar AS. Jumlah itu sebesar 9 persen dari total posisi cadangan devisa sejak awal Januari 2018 hingga akhir Agustus 2018, berdasarkan perhitungan yang merujuk data BI.

Maka dari itu tekanan ekonomi global akan menjadi sorotan BI dalam RDG September 2018 ini. Sumber tekanan gobal itu antara lain dinamika perang dagang antara Negara Paman Sam dan Cina yang terus berkelindan dan memicu aksi retaliasi (pembalasan) satu sama lain. Kemudian, dampak dari krisis mata uang Lira Turki dan Argentina yang berpotensi menimbulkan efek rambatan ekonomi ke ngara-negara berkembang lain.

Saat ini, Bank Indonesia masih melangsungkan kombinasi kebijakan moneter termasuk intervensi pasar agar nilai tukar bergerak ke rentang fundamentalnya. Dalam beberapa hari terakhir nilai rupiah bergerak dalam tren menguat di level Rp 14.800 per dolar AS.

"Kita masih kombinasi dari situ. Jadi kalau kita masih intervensi artinya kita masih lihat dulu rupiah masih belum stabil," kata Dody.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement