Selasa 24 Jul 2018 10:56 WIB

OJK: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat

Tekanan pada pasar keungan dinilai hanya sementara.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Teguh Firmansyah
Ketua DK OJK Wimboh Santoso
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Ketua DK OJK Wimboh Santoso

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjadi pembicara dalam "Investor Update 2018 Forum" yang diselenggarakan TheCityUK. Lembaga tersebut merepresentasikan industri keuangan di Britania Raya dan Accenture, di London Inggris, Senin waktu setempat.

Dalam forum yang diikuti sejumlah investor dan industri keuangan berbasis di Britania Raya itu Wimboh menyampaikan Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

“Tekanan pada pasar keuangan yang terjadi akhir-akhir ini hanya merupakan fenomena temporer sebagai akibat dari rebalancing protofolio dari global investor,” kata Wimboh seperti tertulis dalam siaran pers, Selasa (24/7).

Menurutnya, OJK bersama dengan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah telah berkoordinasi untuk mengambil berbagai kebijakan dalam koridor kewenangan masing-masing untuk meredam gejolak ini.

Dalam forum itu, industri keuangan yang berbasis di Britania Raya juga berpandangan Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang baik. Indonesia dinilai akan mampu menghadapi gejolak di pasar keuangan yang bersifat jangka pendek ini.

Baca juga, Rupiah Selasa pagi Melemah ke Posisi Rp 14.546 per Dolar AS.

Pada kesempatan itu, Wimboh juga menyampaikan agenda prioritas OJK dalam mendukung program strategis Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di berbagai daerah dengan berbagai inisiatif pengembangan di pasar modal.

“Pembangunan infrastruktur menjadi agenda prioritas utama bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran, meningkatkan konektivitas, dan memicu kegiatan ekonomi di daerah sekitarnya,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia juga terus menerapkan reformasi struktural dengan mengalihkan subsidi bahan bakar ke pembangunan infrastruktur dan program jaminan sosial. Wimboh menjelaskan, untuk mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur ini, pengembangan pasar modal menjadi penting sebagai penyedia alternatif pembiayaan jangka panjang.

Selain itu, OJK mendorong beberapa alternatif program pembiayaan. Antara lain melalui pengembangan variabilitas instrumen pembiayaan pasar modal seperti sekuritisasi, obligasi perpetual, greenbonds, obligasi daerah, dan blended finance.

Kemudian menyederhanakan proses penerbitan di pasar modal dan menerapkan beberapa kebijakan yang mendukung seperti pengembangan instrumen dan pasar hedging. OJK juga berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait Insentif Pajak bagi produk pasar modal.

Alternatif lainnya, memperluas basis investor domestik. Serta memperkuat peran Lembaga Keuangan Non Bank dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur termasuk di dalamnya melalui pasar modal.

Wimboh juga mengundang Investor di Britania Raya untuk lebih dekat dengan Indonesia. Sebab Indonesia memiliki banyak outlet bagi investor untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia dengan fundamental ekonomi yang solid, keuntungan yang lebih baik dan risiko yang terkendali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement