Jumat 20 Apr 2018 14:17 WIB

Mentan Minta Ekspor Ayam Indonesia Mendunia

Produksi ayam ras nasional mengalami surplus dibanding kebutuhan nasional.

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Teguh Firmansyah
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Foto: RepublikaTV/Fian Firatmaja
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian mendorong Indonesia untuk terus melakukan ekspor unggas dalam bentuk apapun menyusul tingginya produksi ayam nasional. Produk ayam Indonesia bahkan telah mengisi beberapa pasar negara Asia Tenggara dan Jepang.

"Kalau perlu kita penuhi seluruh Asia. Asia Tenggara dulu kita selesaikan kemudian Asia dan dunia," tegasnya saat melepas ekspor perdana daging ayam olahan ke Timor Leste dan Jepang oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Jumat (20/4).

Saat ini produksi ayam ras nasional mengalami surplus dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Statistik Peternakan 2017 menunjukkan populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 1,69 miliar ekor, ayam ras petelur (layer) mencapai 166,72 juta ekor dan ayam bukan ras (buras) mencapai 310,52 juta ekor.

 

Baca juga, Indonesia Ekspor Daging Ayam ke Tiga Negara.

 

Angka produksi tersebut sangat berlebih jika dibandingkan data konsumsi daging ayam ras masyarakat Indonesia sebesar 11,5 kg per kapita per tahun. Untuk konsumsi telur sendiri mencapai 6,53 kg per kapita per tahun.

Kualitas ayam produksi Indonesia juga cukup baik, meski untuk mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor tidaklah mudah.

Sejumlah kebijakan Kementerian Pertanian telah mendorong peningkatan kualitas ayam yang akan diekspor, di antaranya menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) dan mendapatkan Sertifikat Kompartemen bebas penyakit Avian Influenza (AI).

Selain itu, ia melanjutkan, melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan sangat memperhatikan Sertifikat Veteriner sebagai bentuk penjaminan pemerintah terhadap pemenuhan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan keamanan pangan produk hewan.

Kebijakan tersebut turut berkontribusi pada capaian ekspor sub sektor peternakan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan 2017 mengalami peningkatan sebesar 14,85 persen dibandingkan 2016 yakni 623,9juta dolar AS atau setara dengan Rp 8,5 triliun.

Kontribusi volumee ekspor 2017 untuk subsektor peternakan diakui Amran merupakan yang terbesar pada kelompok hasil ternak, yakni sebesar 64,07 persen. Salah satunya adalah daging ayam. Negara tujuan ekspor subsektor peternakan terbanyak adalah Hong Kong (23,10 persen) dan Cina (21,96 persen).

Secara khusus, ekspor daging ayam tahun 2017 mencapai sebesar 325 ton, meningkat 1.800 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga dengan ekspor telur unggas sebanyak 386 ton atau meningkat 27,39 persen dibanding 2016.

"Peningkatan ekspor berbagai komoditi pertanian termasuk produk peternakan ini tentunya akan meningkatkan perekonomian negara," ujar Amran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement