Kamis 05 Apr 2018 13:57 WIB

Bestekin: Petani Sudah Siap untuk Swasembada Garam

Dengan teknologi Bestekin, petani bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas garam.

Eko Hari Sutopo sedang melakukan panen garam yang menggunakan tehnologi Bestekin di Demplot milik KKP di Indramayu, Jawa Barat.
Foto: istimewa
Eko Hari Sutopo sedang melakukan panen garam yang menggunakan tehnologi Bestekin di Demplot milik KKP di Indramayu, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Petani garam di Indonesia saat ini sudah memiliki tekhnologi untuk membuat garam kualitas industri. Dengan tehnologi ini, kebutuhan garam industri diharapkan akan bisa dipenuhi dari dalam negeri.

Ketua tim Best Sains Tehnologi Indonesia (Bestekin), Eko Hari Sutopo, mengatakan bahwa lembaganya sudah berhasil membuat teknologi pengolahan air laut, yang mampu mengolah air laut menjadi garam dengan kemurnian 99 persen, dalam waktu yang lebih cepat.

“Jika dengan cara tradisional, garam yang selama ini dihasilkan petani prosesnya bisa perlu waktu sebulan untuk penuaan air dan seminggu untuk proses kristalisasi, dengan metode Bestekin prosesnya hanya perlu waktu rata-rata dua hari saja. Jadi. dalam dua hari sudah bisa menghasilkan garam,” kata Eko, di kantor Republika, Kamis (5/4).

Garam yang dihasilkan dengan proses teknologi Bestekin ini tingkat kemurniannya mencapai 99 persen. Sementara itu, kalau dengan pengolahan cara tradisional, kemurnian garam maksimal hanya 94 persen.

“Untuk kebutuhan industri kan kemurnian garamnya minimal hanya 97 persen. Jadi, garam dengan proses teknologi Bestekin sudah sangat memenuhi standar industri,” papar Eko.

Dengan teknologi ini, lanjut Eko, produksi dalam negeri akan makin bisa ditingkatkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Terkait dengan uji coba teknologinya, Eko mengatakan bahwa teknologinya sudah diuji di Demplot milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Desa Eretan Kulon, Indramayu, Jawa Barat. “Sudah terbukti mampu menghasilkan garam seperti yang kita sampaikan,” kata dia.

Produk garam yang dihasilkan dari metode Bestekin juga sudah diuji laboratorium di Sucofindo. Hasilnya, tingkat kemurnian garamnya mencapai 99 persen. Selain itu, garam tersebut aman untuk dikonsumsi.

Saat ini, lanjut Eko, sejumlah lembaga terkait sudah menjalin komunikasi dengan Bestekin. “Mereka mendatangi Demplot KKP di Eretan Kulon,” kata dia.

Untuk penyebaran teknologi Bestekin, kata Eko, saat ini pelatihan pengolahan air laut, yang diikuti oleh PT Garam dan petani garam yang tergabung di Koperasi Sekunder binaan KKP, telah dilakukan. Koperasi Sekunder ini mewakili koperasi-koperasi dari 22 kabupaten seluruh Indonesia.

Eko yakin jika teknologi ini sudah diterapkan di masing-masing wilayah, produktivitas garam industri akan naik hingga berlipat-lipat. “Sehingga kita akan mampu untuk swasembada garam,” ungkap Eko yang juga memiliki program Sulap Fisika Sains di Republika.co.id.

Eko berharap petani bisa memberikan dukungan terhadap penerapan teknologi ini. Dengan demikian, ke depannya kebutuhan garam nasional bisa terpenuhi dari hasil produksi petani dalam negeri.

“Bahkan, sangat mungkin untuk tidak lagi impor garam karena petani akan mampu melakukan swasembada garam,” ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement