Senin 12 Mar 2018 08:35 WIB

Mengolah Limbah Tandan Kelapa Sawit Jadi Helm Motor

Biokomposit berpenguat TKKS mampu menahan energi tumbukan.

Rep: Djoko Suceno/ Red: Budi Raharjo
Helem terbuat dari Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Foto: Djoko Suceno
Helem terbuat dari Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

REPUBLIKA.CO.ID,Industri pengolahan kelapa sawit di Tanah Air mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Selain menghasilkan nilai ekspor yang tinggi, di sisi lain industri ini pun menyisakan persoalan lingkungan hidup.

Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang merupakan sisa dari produksi kini menjadi persoalan serius. Bagaimana tidak, hasil panen kelapa sawit segar setelah diolah akan menyisakan sekitar 20 persen limbah. Misalnya dari satu ton kelapa sawit segar, sekitar 200 kilogramnya akan menjadi limbah. Sedangkan produksi limbah TKKS ini jumlahnya begitu banyak.

Sampai saat ini baru sebagian kecil saja yang memanfaatkan limbah TKKS tersebut. Salah satunya adalah PT Interstisi Mtrial Maju (IMM) yang merupakan mitra Departemen Fisika Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah melalui sebuah penelitian yang cukup panjang, akhirnya pada 2015 ditemukan sebuah teknologi pemanfaatan TKKS sebagai bahan campuran pembuatan helm sepeda motor.

Untuk menaungi hasil penelitian tersebut maka didirikanlah PT IMM pada 6 Oktober 2017. Perusahaan yang didirikan oleh Dwi Arso Yedi, Adil Quarta, Gema Sukmawati, dan Rini Sumarni ini bergerak dalam bidang material maju berbasis biokomposit ramah lingkungan.

Menurut Adil Quarta Anggoro, Chief Marketing Manager Officer PT, perusahaan ini berdiri dalam rangka menaungi hasil penelitan tim riset IPB yang diketuai oleh Dr Siti Nikmatin sebagai inovator. Interstisi, kata dia, sejak 2008 telah meneliti biokomposit dengan berbagai jenis penguat serat alami. Diantaranya rotan, rami, kenaf, dan sawit.

Salah satu hasil dari penelitian panjang tentang serat alami ini menemukan bahwa biokomposit berpenguat TKKS memiliki kekuatan impak yang unggul dan mampu menahan energi tumbukan. Selanjutnya, kata dia, hasil penelitian ini diaplikasikan menjadi diversivikasi produk berupa helm biokomposit.

"Maksimal campuran TKKS untuk produk helm sebanyak 20 persen. Sedanhkan 80 persennya masih menggunakab polimer," kata dia kepada //Republika.co.id dalam sebuah pameran di Bandung beberapa waktu lalu.

Helm produksi PT IMM, kata Adil, kemudian diujikan dengan standar SNI dan mendapatkan hasil yang sangat baik. Helm ini, imbuh dia, menjadi produk unggulan dari PT IMM dengan nama GC Helmet yang merupakan singkatan dari Green Composite Helmet. Prototipe helm green composite, kata dia, telah dimulai pada tahun 2016 dengan kapasitas produksi 500 helm per tahun.

Ada tiga tipe helm produksi perusahaan ibu yaitu SN-1, SN2, dan SN-3 dan dinyatakan lulus pengujian SNI. Uji pasar telah dilakukan pada beberapa kota di Jawa, Sumatera dan Bali melalui penjualan langsung, promosi di perguruan tinggi, instansi pemerintah dan swasta, pameran riset dan teknologi, serta publikasi paper internasional. " Produksi kita masih terbatas karena masih menggunakan mesin kecil skala laboratorium," tutur dia .

Saat ini, kata Adil, perusahannya baru bisa memproduksi empat varian helm yaitu jenis ruki, petro, sport, dan anak. Harga jual helm ini, kata dia, dibandrol sekitar Rp 300 ribu per unitnya. Ia mengatakan, dari sisi kialitas dan harga helm limbah TKKS ini mamou bersiang dengan produk yang sudah ada di pasaran. "Dari sisi kekuatan sudah teruji. Salah satu cara mengujinya yaitu dijatuhkan dari ketinggian lebih dari enam meter dan tetap kuat," kata dia.

GC Helmet, sambung Adil, sebagai helm yang ramah lingkungan dan merupakan inovasi pertama di Indonesia. Produk helm tersebur, kata dia, untuk memenuhi kebutuhan akan langkah lanjutan dalam hilirisasi, implementasi, dan finalisasi yang terintegrasi. Langkah tersebut sebagai upaya dalam percepatan produksi serat TKKS, pembuatan biji komposit berpenguat TKKS, serta produksi GC helmet dengan painting dan assembling secara sustainable.

Selain itu, imbuh dia, pengembangan akan terus dilakukan dalam desain produk yang lebih menarik, penguatan branding, pemasaran yang efektif dan perluasan pasar. " Saat ini kami masih mengandalkan penjualan secara online. Ke depan kami akan terus mengembangkannya sehingga produk ini mudah dibeli di pasaran," tutur dia.

Dalam sebuah pameran di Kota Bandung, produk PT IMM ini banyak mendapat respons positif dari para pengunjung. Salah seorang, pengunjung, Muhammad Iqbal (26 tahun) mengatakan, dari sisi kualitas helm limbah tandan sawit ini sudah diakui. Ia menyebutkan dengan adanya lolos uji SNI 181-2017/ Amd1:2010 menunjukan bahwa produk ini sudah memenuhi standar kualitas.

Selain itu, kata dia, keunggulan lainnya yaitu dari sisi artistik. "Salah satu produk helm ini ada yang memperlihatkan serat-serat TKKS. Ini tak dijumpai pada produk helm lain," ujar dia yang akhirnya membeli sebuah helm model retro warna hitam dengan harha Rp 300 ribu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement