Senin 05 Mar 2018 18:31 WIB

Gojek Tertarik Melantai di Bursa, Kapan?

Jika listring di bursa, mitra driver bisa memiliki saham perusahaan.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih
Salah satu layanan transportasi berbasis aplikasi daring, Gojek, melaju di jalanan ibu kota.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Salah satu layanan transportasi berbasis aplikasi daring, Gojek, melaju di jalanan ibu kota.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau dikenal dengan Gojek Indonesia mendatangi kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/3). Presiden Gojek Indonesia Andre Soelistyo pun bertemu langsung dengan Direktur Utama BEI Tito Sulistyo.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan itu, BEI menjelaskan mengenai kondisi pasar modal Indonesia saat ini. Termasuk, bagaimana BEI bisa mendukung lebih banyak perusahaan teknologi Indonesia agar melakukan Go Public atau Initial Public Offering (IPO).

"Kami melihat, BEI telah menyiapkan berbagai pendekatan yang dapat membantu perusahaan startup teknologi digital untuk IPO. Khususnya di tengah kondisi dinamis perkembangan sektor teknologi," ujarnya.

Andre pun tidak memungkiri, Gojek memang tertarik melakukan IPO. Apalagi salah satu tujuan perusahaan yakni membuat para driver-nya turut memiliki saham perusahaan.

"Kami di Gojek pun tentu saja mendambakan bisa terdaftar di BEI. Hal ini akan menjadi kebanggaan kami untuk bisa melantai, sehingga masyarakat Indonesia termasuk para mitra pengemudi kami bisa ikut memiliki saham Gojek," kata Andre.

Hanya saja, kata dia, belum ada rencana spesifik terkait IPO. Maka, ia pun belum bisa menjawab secara detail kapan atau berapa banyak jumlah saham yang akan dilepas. "Yang pasti kami sangat serius dalam hal ini," kata dia.

Lebih lanjut, Andre menyebutkan, Gojek berencana pula melakukan IPO di luar negeri atau dual listing. Hanya saja, perusahaan masih belum memutuskan negara yang akan dituju tersebut.

"Belum tahu, yang jelas Indonesia, makanya cari arahan buat make it happen. Kalau negara kedua, mungkin lebih mengerti emerging market seperti apa karena market kan harus well educated, tapi tidak tahu mau ke negara mana," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement