Senin 11 Dec 2017 13:37 WIB

Indonesia tak Bisa Menghindari Revolusi Industri 4.0

Sektor industri Indonesia harus siap menghadapi revolusi industri 4.0.
Foto: Antara
Sektor industri Indonesia harus siap menghadapi revolusi industri 4.0.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, revolusi industri keempat atau revolusi industri 4.0 dimana setiap sektor produksi di industri sudah terintegrasi secara online, tidak bisa dihindari.

"Revolusi industri 4.0 bagaimanapun juga kita harus cermati ini. Kita tidak bisa menghindarinya," ujar Darmin saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12).

Menurut Darmin, agar siap menghadapi revolusi industri 4.0 tersebut, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi hal yang krusial untuk djawab. Darmin menyebutkan pemerintah telah berupaya untuk mendorong meningkatnya kualitas SDM di Tanah Air.

"Ini adalah area yang tidak bisa tidak harus kita jawab segera. Pemerintah sudah punya langkah-langkah di bidang ini walau untuk mewujudkan dalam skala besar ternyata bukan main tantangannya, namun kalau skala terbatas sudah berjalan," kata Darmin.

Revolusi indutri 4.0 memang mengedepankan otomasi dalam proses produksi industri yaitu memanfaatkan tenaga robotik yang terhubung dengan internet dalam pengoperasiannya. Di Indonesia, industri yang sudah siap menjalankan revolusi industri 4.0 antara lain industri petrokimian, makanan dan minumman, semen, dan otomotif.

Revolusi industri 4.0 pertama kali dicetuskan pada 2011 oleh Jerman dan kemudian menjadi tema utama pada World Economic Forum (WEF) 2016 di Davos, Swiss. Sejumlah negara yang telah memiliki program-program untuk mendukung industrinya menuju revolusi tersebut antara lain Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Cina, India, Jepang, Korea, dan Vietnam.

Darmin mengatakan, di dunia digital saat ini, industri memang harus cermat memilih produk unggulan yang bisa dihasilkan sehingga bisa bersaing dengan produk dari negara-negara lain, walaupun dari sisi teknologi belum optimal.

"Kita harus cermat memilih apa saja yang kita bisa unggul. Apa yang dominan diperdagangkan di 'marketplace' dunia, produk yang bisa dihasilkan. Memang bukan teknologi tinggi, itu harus diakui, tapi ada hal-hal yang skalanya luar biasa besarnya. Sederhananya saja seperti produk karet, misalnya di pintu dan kaca mobil. Ini skala dunia, jangan bayangkan skala Indonesia," ujar Darmin.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement